Showing posts with label to Read. Show all posts
Showing posts with label to Read. Show all posts

10.1.21

Let's Read: Bawa Ia Ke Dunia Nyata Bersama Si Kecil

Dewasa ini, kita sudah sering mendengar anak bayi yang "diasuh" gawai sementara orang tuanya pontang-panting menyelesaikan pekerjaan kantoran (yang kini dibawa ke rumah berkat pandemi), atau tugas domestik si perfeksionis dimana masakan di rumah harus terdiri atas empat macam dan semua baju harus tersetrika rapi. Padahal, menikmati gawai sebelum usia mereka dua tahun, sebetulnya tidak disarankan sebagaimana dilansir oleh WHO .




Bagaimana dengan Faruki?

Jujur saja. Faruki sudah nonton TV sejak usianya delapan bulan. Tidak benar-benar menonton, tentunya. TV hanya menyala saja di rumah sebagai suara latar. Supaya kami tidak benar-benar merasa hanya berdua saja saat Appa-nya kerja. Lalu di usianya yang ke lima belas bulan, ia mulai kenal laptop dan Youtube. Bermula dari akal-akalan Anbu supaya ia mau makan. Iya, iya. Memang ini salah. Bermain bersama sudah paling bagus, setuju?

Saat ini saya sedang merasakan pahitnya permisif terhadap gawai - yang walaupun tidak berlebihan, namun tetap terlalu dini - dimana Faruki belum mempunya kosa kata sebanyak anak lain yang seusianya menurut milestones tumbuh kembang. Padahal sejak hamil, kami membacakan buku untuknya. Saat ia masih bayi pun, ia disusui sambil dibacakan buku. Sekarang pun masih ada rutinitas membaca buku setiap harinya. Lalu, kenapa semua rasanya runtuh gara-gara sebongkah gawai saja?

7.8.19

Mari, Bung! Rebut (Literasi Unggul) Kembali - Strategi Win Back


Cita-cita luhur negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai UUD 1945, sebagaimana dipetakan juga dalam visi Kemdikbud 2025 yakni membentuk insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif (insan kamil/paripurna), mendorong diperlukannya peningkatan, bahkan pembenahan di berbagai aspek pendidikan. Salah satunya adalah literasi - yang menurut KBBI berarti, kemampuan membaca dan menulis. Sejarah emas bangsa ini telah merekam bagaimana orang-orang hebat pencetus kebangkitan nasional dibesarkan melalui aktivitas literasi. Sebut saja Bung Karno yang pernah menulis naskah pidato Indonesia Menggugat yang fenomenal itu, Bung Hatta yang bahkan rela dipenjara asal bersama buku, atau dr. Sutomo sang pendiri Budi Oetomo yang menggunakan literasi sebagai salah satu senjatanya dalam pergerakan melawan penjajah Belanda.

Buat banyak orang penjara itu tempat yang buruk, tempat yang tidak ada enak-enaknya, tidak ada yang baik. Tapi buat Bung Hatta, penjara adalah ruang semedi, ruang pertapaan di mana orang bisa memperkuat watak, memperkuat iman, terutama jalannya adalah dengan membaca,” (J. J. Rizal, sumber).

Jadi sebetulnya, kita pernah unggul! Lantas, apa yang bisa upayakan untuk kembali unggul seperti di zaman para pendiri bangsa ini? Agar kita, juga anak-anak kita, generasi alfa penerus bangsa tidak terlena dengan percepatan kemajuan teknologi yang tersederhanakan dalam sebuah gawai saja?

Gambar oleh Dewiif.

Ya. Kita membutuhkan sebuah program Win Back.


Dalam istilah pemasaran, program ini dilakukan saat pemasar menggunakan sejumlah cara untuk merebut kembali pelanggan lama yang sempat berhenti bermitra - entah karena sudah beralih ke produk kompetitor, entah sudah tidak tertarik, dan sebagainya. Menariknya, hal ini dapat kita terapkan sesuai dengan analogi “kegiatan berliterasi” sebagai produk, sedangkan mitranya adalah kita sendiri.

18.3.17

Ketika Semangat Berliterasi Pergi - dan Kembali

Ada dua alasan utama mengapa kita pada umumnya mengenal lalu mencintai dia. Satu, KMGP - Ketika Mas Gagah Pergi; dan dua, Annida. Kebanyakan orang memilih yang pertama daripada yang ke dua. Tetapi yang ke dua tidak bisa terlepas dari yang pertama karena genre baru (baru, pada waktu itu) yang dilahirkannya muncul subur pada yang ke dua. Sementara saya, waktu yang pertama muncul saya mungkin masih SD. Dunia saya masih sangat sempit sesempit majalah Bobo dan Donald hehe. Makanya, ketika saya SMP (sekitar 2002), saya pernah les bahasa Inggris dimana sang pemilik mempunyai sebuah perpustakaan kecil yang sering saya sambangi - dengan koleksi buku yang saya belum pernah temukan sebelumnya bernama "fiksi Islami"; maka di situlah akhirnya saya diperkenalkan dengan yang ke dua. Ya. Berkat alasan tersebut saya jadi jatuh cinta dengan beliau: Helvy Tiana Rosa.

HTR as seen on IG, as drawn by me.
Membicarakan Bunda Helvy, sebagaimana beliau biasa disapa oleh penggemarnya, memang selalu bikin saya terharu dan excited sendiri. Bagaimana tidak, bisa dibilang, kesukaan saya menulis, walaupun tidak benar-benar berawal darinya akan tetapi banyak sekali dipengaruhi oleh beliau. Ah, sebenarnya Annida secara umum sih. Tapi sebagai salah satu pendiri Annida (dan FLP), bagaimana kamu bisa tidak kagum dengan beliau yang tetap teguh menulis sambil berdakwah lewat karya-karyanya yang demikian indah nan menggugah?

Ketika SMP saya menemukan banyak majalah Annida edisi lama di tempat les tersebut - Oxford Course namanya, saya seringkali meminjam majalah tersebut ke rumah. Tidak jarang juga saya bawa ke sekolah dan ditunjukkan ke teman saya yang juga senang membaca - sebut saja Risma. Sampe hapal waktu itu, siapa saja yang sering nulis di situ dan cerpennya seperti apa. Biasanya setelahnya kita akan membahas cerpen-cerpen di dalamnya terutama cerpen karya Bunda Helvy. Kita memang sama sekali bukan apresiator yang baik apalagi kritikus hehe. Tapi kita sebagai anak SMP saja tahu kalau cerpennya beliau itu tidak hanya keren secara bahasa akan tetapi juga cerita. Kalau sekarang kita perhatikan ya, beberapa penulis (fiksi, terutama yang genre-nya Islami) banyak yang terjebak pakem berlebih-lebihan dalam mempuitisasi tulisan. Padahal ceritanya biasa aja (imho looohh) terus gak tau kenapa, dia best seller zzzz. Hmm saya berani bilang, karyanya Bunda Helvy itu tidak demikian. Semuanya serba pas dan tidak berlebihan. Termasuk, kandungan dakwah di dalamnya.

12.3.17

Weird Habit(s) on How I Read Book(s)

Remember that I once ranted about how much my interests in reading keep lower and lower these days and I feel sad about it. I mean, reading is one of my proudly bragged hobby (lol) and if I don't read, what will I be? Last year I possibly only succeed to read one book or two (Lame, no?). Think about it, I might have a lot of spare time and those time I mostly overuse it for (sigh), yeah, fixated on my cell phone - while I could have a lot of stuff added into my brain by reading my piling books. Well, most of them are fiction but I always believe that every book has its lesson and the worst thing in life in my opinion is when you fail to use the most of your resources - mubazir-ism heheh. So, not reading your purchased books is one deed of mubazir-ism and we don't want that to be happened again, do we?

So fortunately my reading-passion (forgive my bad naming for this lol) is actually increasing since early this month. Until today I've finished reading 6 books (yayyy): Jodoh Monica by Alberthiene Endah; 19+ by Boim Lebon; Wanita Muda Di Sebuah Hotel Mewah - Kumpulan Cerpen by Hamsad Rangkuti; Klub Solidaritas Suami Hilang - Kumpulan Cerpen Kompas 2013; Kau Sudah Mati by Jack Lance; The Ghost by Robert Harris. Not to mention about those half-read books piling beside my pillow on my bed. Yes, my copy of Pulang by Leila S. Chudori that has not finished yet, along with Kamu by Sabda Armandio that I've been lost interest to since I don't remember when. Such an achievement if you remember my laziness of reading last year.

My books are beside me.
Told you my hobbies are seasonal. I even haven't made drawing again since February :( And before my reading-hobby decided to dormant again, let me tell you about my reading habit and how it is difficult for me to pick where I left of when reading discontinuously. Oh, I forget to tell you that I need extra focus when I read and when I stop more than a week, I probably forget what I've been reading. Here's why.

First

I have to pick which book I have to read. This depends on my mood, tho. Like last week I want to read short story so I picked one (that Hamsad Rangkuti book). And this week I've been craving for thriller - darker, better - so I chose Jack Lance's. Etc.

6.2.16

Berjilbab Itu Mahal

Membicarakan proses berhijab selalu menyenangkan bagi saya. Entahlah. Ada yang bilang ini usaha menyombongkan diri, riya' dan istilah lain sejenis (bukankah masalah terbesar orang yang menyampaikan kebaikan itu begitu? Dianggap sombong, riya', fanatik, militan). Tapi ya udah.

Back to topic, proses berhijab sudah pernah saya bahas sedikit di postingan yang ini. Hmm gak tau deh. Tiba-tiba aja saya jadi pengen bahas lagi. Mungkin karena saya abis nonton KMGP? Saya gemes ketika ada orang sudah berjilbab, terus mencela orang yang belum dengan kata-kata "ih apa susahnya sih jilbaban, tinggal pake doang". Itu salah. Karena berjilbab itu susah.

At least waktu itu.

1999

Di suatu tabligh akbar pas syukuran hatam anak-anak ngaji pas SD, ustadz-nya ngasih ceramah kayak gini:
"Menutup aurat itu perintah Allah dalam Al Qur'an. Gak laki gak perempuan semuanya harus menutup aurat kecuali di depan mahrom-nya. Aurat perempuan yang banyak. Seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Dan bukan cuma sholat atau ngaji aja perempuan harus menutup aurat"
Dalam hati saya:
"Hah? Berarti harus mukena-an gitu tiap ke luar rumah atau ketemu orang lain? Mukena kan buat sholat doang. Aneh."

27.1.16

Menua

Apakah mungkin Kenangan hanya fasilitas yang diciptakan Waktu untuk menghukum manusia? - Sabda Armandio, Kamu Cerita Yang Tidak Perlu Dipercaya (2015).
Kadang-kadang saya mikir, gimana rasanya menjadi tua? Dimana kamu tidak punya banyak kemampuan yang tersisa yang biasanya kamu ahli. Dimana kamu sudah gak mampu ke mana-mana, sakit, lemah, dan ruang gerak kamu menjadi terbatas. Kamu yang biasanya lincah, pengembara, aktif, tiba-tiba ruang gerakmu dibatasi menjadi di sekeliling rumah saja.

Menjalani rutinitas terbatas setiap harinya, maha membosankan namun memang tidak ada hal baru yang bisa kamu lakukan - bahkan diingat secara jangka panjang. Oleh karenanya bertahun-tahun kamu menjadi tidak punya pengalaman baru, dan satu-satunya obrolan yang bisa kamu bagi hanyalah kenangan yang kamu masih ingat jelas. Kenangan yang tersimpan lama, jauh sebelum kamu menua, jauh sebelum kamu berhenti lincah, mengembara, aktif, dan jauh sebelum ruang gerak kamu dibatasi. Yup. Pada akhirnya yang tersisa hanya kenangan.

Memory, Agent Starling, is what I have instead of a view - Hannibal Lecter, in The Silence of The Lambs (1991).
Ini dimulai saat saya mengamati nenek saya di rumah. Usianya sudah di atas delapan puluh. Penyakit beliau sudah bermacam-macam sekali. Untuk berjalan pun beliau sudah susah. Sejak belasan tahun lalu beliau sudah tidak pernah ke mana-mana lagi. Ruang gerak beliau jadi terbatas sekali. Rumah. Ruangan ke ruangan. Halaman depan. Sudah. Begitu pun orang. Hanya bertemu anak dan cucu setiap hari. Tetangga sesekali. Tukang gorengan yang mampir beberapa hari sekali. Dipanggil cuma kalau pingin jajan.

13.11.15

Segitiga

Takahashi Shinji

"Itu bukan manis! Itu namanya menguntit! Apanya yang manis dari dikuntit?"

Koyama Nobuo

"Sejak jiwaku pindah ke tubuhnya Takahashi Shinji sepertinya semua orang mulai memperhatikan aku. Bahkan Maruyama yang suram itu. Dan rasanya akhir-akhir ini dia tidak terlalu suram. Sepertinya dia baik."

Maruyama Miho

"Dulu aku pernah berniat bunuh diri. Kemudian aku bertemu orang ini. Setelah itu hidupku jadi berwarna lagi. Aku pikir aku ingin terus hidup setelah itu."

Maruyama San. Artwork by Tweedledew. Inspired from The Dead Returns by Akiyoshi Rikako.

2.8.15

Kucing Kumal

Betul sekali. Sengaja saya kasih judul Kucing Kumal karena saya memang baru saja menyelesaikan bukunya Raditya Dika yang judulnya Koala Kumal (baca resensinya di sini). Kalau kamu baca bab terakhir (eh, spoiler!) maka kamu akan sadar sembari mengangguk-angguk: oh iya ya, ini buku tentang cerita patah hati. Well, kamu 'gak tau kamu lagi baca buku apa sampai kemudian epilog itu menyadarkan kamu. Saya aja beli simply karena saya suka tulisannya Raditya Dika. Kalau dulu dia cuma bisa ngelucu doang, sekarang kelucuan dalam tulisan-tulisannya jadi tambah smart, dan apa ya. Dewasa.

Terus kenapa kucing? Ya saya lebih suka kucing daripada koala. Sorry.

Bastet. Colored edition. Original artwork by @tweedledew.
Patah hati.

Saya jarang sekali ya ngomongin hati. Terlepas dari ketidakpercayaan diri saya terhadap sesuatu yang bernama hati, you know, kayak, emangnya saya masih punya hati? Oh masih. Tapi dia masih berfungsi 'gak? *cie galau* Something like that. Ya memang di blog ini hampir semuanya bersifat pribadi. Kalau yang kenal banget sama saya di kehidupan nyata (atau maya?) pasti tau lah maksud di balik tulisan-tulisan saya. Ya sebenernya semuanya pribadi. Hanya saja saya lumayan suka main kode. Menyadarkan kamu sih, bahwa hidup kamu mungkin still a lot better hehe.
Maka, ketika dia sudah tidak bisa mencintai, mungkin dia tidak harus berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Seperti misalnya, mantan pacar yang masih sering ketemu. -P106

7.4.15

Baca Baca Baca

Tidak banyak pembaca blog saya yang tau kalau selain blog ini, saya juga menulis satu blog lain yang tidak kalah sarkas-nya (hehe) namun belum pernah saya perkenalkan sebelumnya karena saya jaraaaaaaaang sekali bikin postingan di situ. Nama blognya: Ikra Difa. Yup. Sesuai namanya, "ikra" merupakan pelesetan dari Iqra dalam bahasa Arab (mungkin artinya jadi berbeda ya tapi ya..tau apa saya dengan bahasa Arab? hehe) yang artinya "bacalah". Walaupun sedikit maksa, ikra pun punya arti lain yang saya susun sendiri yaitu: Intisari, Komentar, Resensi dan Artikel. Sementara "Difa", well, Difa adalah singkatan dari nama asli saya. Sengaja ditambahkan huruf "a" di belakang biar agak berima dengan ikra. Iya. Kalau disambungkan arti Ikra Difa menjadi:

Intisari, Komentar, Resensi dan Artikel (tentang buku) by Dewi Isnaini FAdhilah.
Find me on http://ikradifa.blogspot.com.
Saya suka banget dengan nama ini karena kesannya sedikit Arab-ish namun rasa Indonesia-nya gak hilang. Mungkin kalau suatu saat saya punya penerbitan buku atau perusahaan apa gitu, saya bakal namain Ikradifa deh hihi. Semoga saja saat itu nama ini belum ada yang nyatut.

Oke sekarang mungkin beberapa dari anda akhirnya kepo membuka blog saya yang itu. Tapi mohon maaf. Mungkin anda akan kecewa karena postingan terakhir saya di situ bertanggal di 12 Januari 2014! Haha. Iya. Sejak ditolak keanggotaan dari grup BBI (Blogger Buku Indonesia) - tears - saya jadi maleeees banget mau bikin resensi. Ada beberapa faktor kenapa saya membiarkan blog yang itu dan malah tambah rajin ngepost di sini. Salah satunya tentu saja: karena saya sekarang jarang sekali membaca. Hmm.. kalau ditelusuri lagi, kenapa ya jadi jarang baca? Padahal waktu kecil saya termasuk binge reader. Semua saya baca. Dari manga sampai Goosebumps, dari Bobo sampe buku-buku IPA tentang eksperimen sains gitu, dari Enid Blyton sampe Annida..- kecuali koran, sampe sekarang saya gak suka baca koran.

Saya akan sedikit introspeksi di sini.

1
Kerja
Taken from Beauty and The Briefcase.
Faktor utama jarangnya seseorang menekuni hobby biasanya adalah kesibukan bekerja. Seorang karyawati seperti saya biasanya melalui 5 hari dalam seminggu, menghabiskan waktu di kantor kemudian langsung pulang, capek, lalu ketidur. Sabtu-Minggu? Sebagai seorang perantauan, Sabtu-Minggu adalah harinya sosialisasi dan jalan-jalan. Baca buku? Duh kapan ya.

15.1.15

Dijah Yellow, Flu, Bystander Apathy dan Ridwan Kamil

"Silakan aja kalian haters mau ngomong apa, karena aku ini apa adanya, aku sih bodo amat yaa.. karma nanti berlaku. Haters, hati-hati semua berbalik ke kalian lhooo.." - Dijjah Yellow, 2014.
Mungkin agak basi yaa membahas fenomena Dijah Yellow. Hihi. Bagaimanapun dia itu salah satu manusia yang patut diacungin jempol lho. Dengan modal pede badai plus bakat ngelucu (hmm.. the jokes never get me yah, tapi kadang sesuatu yang terlalu garing itu malah jadi lucu - imho), terus smartphone seadanya, dia bisa lho jadi seleb dadakan. Udah gitu harga dirinya tinggi banget! Bagus bagus. Ini namanya konsisten hihihi. Tapi sebetulnya fenomena Dijah Yellow ini cuma contoh aja.

Kalau ditaro foto asli gak enak ah, nanti bisa dituntut hahaha. Sumber.

Semua berangkat dari pembicaraan dengan teman, dimana kadang kita berpikir, kenapa sih harus peduli banget sama omongan orang? Sejauh apa kita harus peduli sama orang lain? Dan suatu opini lucu bahwa sebaiknya saya tinggal di negara lain seperti Amerika gitu yang gak pedulian satu sama lain (looks like that). Padahal, berdasarkan fakta di lapangan, teman saya yang kuliah di luar negeri menyebutkan, bahwa hidup di luar negeri dengan orang-orang yang tidak pedulian itu sama sekali gak enak. Mungkin karena kita terbiasa hidup di negara Indonesia yang gemah-ripah-loh jinawi, gotong royong dkk. Jadinya gak enak aja gitu kalau gak peduli.
Yearly influenza epidemics can seriously affect all populations, but the highest risk of complications occur among children younger than age 2 years, adults aged 65 years or older, pregnant women, and people of any age with certain medical conditions, such as chronic heart, lung, kidney, liver, blood or metabolic diseases (such as diabetes), or weakened immune systems. - WHO.
Saat ini ada banyak hal yang berkeliaran dalam pikiran saya. Misalnya kenapa orang masih meremehkan sakit flu. For God's sake, flu itu menular lho. Dan taukah anda bahwa ada ratusan, even ribuan jenis flu yang memiliki gejala hampir sama namun setiap orang bisa mengidap lebih dari dua kali per tahun? Itulah uniknya flu. Dengan mengandalkan dua jenis protein haemagglutinin dan neuraminidase saja dia bisa bermutasi jadi ratusan jenis sehingga tidak akan punah dan tetap gak kehilangan tajinya untuk mengganggu sistem pertahanan tubuh. Makanya ada yang namanya flu shot alias vaksinasi terhadap flu (influenza sih) yang dilakuin setiap 6 bulan sampai dengan per tahun (penjelasan lebih lanjut bisa Googling sendiri ya hehe). *ceila malah jadi ceramah. Ya pokoknya jangan pernah meremehkan flu.

19.1.14

Shockingly Sherlocked

When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth.
Sherlock. Pen on paper, touched with Photoshop.
This famous quotes I first found in the Detective Conan manga series was suddenly appeared again in one of the most anticipated serial nowadays: Sherlock on BBC. I blamed myself for not letting my best friend, Azizah, when she tried to persuade me to watch the serial in 2010. That day I got an issue with detective stories, I once liked it very much until I entered high school and one particular event changed my life and made me stop liking any of it. Besides, I didn't get into trends. But last week when I accidentally stumbled upon the first season DVDs I have since a very long time, yeah, A Study In Pink, I suddenly became shockingly "sherlocked"!

21.12.13

Okay? Okay!

Hi, so okay, I don't know if you'll understand this but I can't kiss you or anything. Not that you'd necessarily want to, but I can't.

When I try to look at you like that, all I see is what I'm going to put you through. Maybe that doesn't make sense to you.

Anyway, sorry.

He responded a few minutes later.

Okay.

I wrote back.

Okay.

He responded:

Oh, my God, stop flirting with me!

I just said:

Okay.

My phone buzzed a moment later.

I was kidding, Hazel Grace. I understand. (But we both know that okay is a very flirty word).

I was very tempted to respond okay again, but I pictured him at my funeral, and that helped me text properly:

Sorry.

(The conversation taken from The Fault in Our Stars by John Green, as reviewed by me in Bahasa Indonesia, here).

29.10.11

Influential Visual Science Book

When I was a kid, I was so in love with kids drawn-science books. It was because there were so many amazing pictures in it, making science became so fun to read even if you just looking at the picture. I couldn't name all of them because I read a lot, but my favorite books are came from a German kids books author and illustrator, Hans Jὓrgen Press. His work are amazing and so fun to stare at since he was also a mystery book author and you need to stare at the illustration to solve the mystery. You know "The Black Hand Gang"? It's a mystery book, about a detective group. Unfortunately, it didn't published in my country so I wouldn't tell much about it but from what I heard, that book is so fun to read (and stare).

  
Okay so I've read several titles of his works but my favorite was "Melacak Alam" (means Nature Tracing), an ecology book which was published in 1970's, but I found it when I was in middle school. I read it like, hundred times and did almost every experiments written there and also even re-wrote my favorite parts along with the picture. So if you wonder where did I get the science-drawing enthusiasm, now you know the answer.


I totally adore his fun illustration technique. It's just simple but full of details. And you know what, his work is one of my influence in making my own illustrations.
A peak of his book titled Simple Science Experiments.

From the book "The Black Hand Gang series".
Here are some sketches by me, taken from "Melacak Alam" (pardon me, they are a little blurry).


Right now I'm looking forward to gaining every pieces of his books, even if I have to search the used books since they are so old. Several science books are still available to order in my country. Well, from a little search, I heard that Mr. Julian Press, Hans' son is also a kids book author and his illustrator is similar with his father's. I guess I'll do some search for his work later.

17.9.11

My Wimpy Present

Remember about my review about Diary of A Wimpy Kid books series on my late post? It was written in Bahasa Indonesia and actually, I posted it so I was involved in a quiz to win a copy of Diary of A Wimpy Kid number 5. It's a newly translatted book, (not so new internationally) and I am a big fan of the author, Jeff Kinney. Good news is, I was win and today the book has arrived safely in my house. So excited to start to read it. Maybe I'll make another review once I finished the book. Thanks Atria Publisher!

My book is arrived! Horray
Can't wait to start reading..

14.9.11

When a Wimpy Kid writes Diary

Pertama nyari buku ini gara-gara sempat nonton filmnya yang dibintangi Zacchary Gordon dan Devon Bostick, dengan judul sama: "Diary of A Wimpy Kid" (psst, film ke-2-nya udah rilis loh) Nah kalau kamu lihat grafisnya yang oke banget, plus kartun-kartun lucu yang disisipkan di banyak adegan, pasti kamu bakal sangat penasaran, seperti apa bukunya? Jadi aku pun segera browsing di internet dan thanks to Atria, ternyata buku tersebut udah ada versi bahasa Indonesia-nya (which is cheaper dibanding buku impor :P). Singkat cerita, aku coba-coba beli satu jilid di toko buku dan you know what, sampai sekarang aku ketagihan baca buku ini. Terakhir lihat sih buku ini yang totalnya ada 6 edisi, sudah terbit sampai jilid 5 dalam bahasa Indonesia.
Diary of A Wimpy Kid Movie Cover 1 + 2.

Oke jadi ceritanya, Greg Heffley (si wimpy kid) sedang berusaha beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya, dimana banyak remaja tanggung dengan tingkat pertumbuhan yang berbeda (Greg menyebut teman-temannya yang sudah akil balig dengan 'gorila') harus bersama-sama dalam satu tingkatan sekolah, SMP. Dalam usaha beradaptasi tersebut, Greg melakukan segala cara agar dia bisa survive termasuk dengan mencoba jadi yang populer di antara teman-temannya. Dari mulai mencalonkan diri sebagai bendahara OSIS, jadi bintang gulat, kartunis sampai masuk jadi anggota polisi sekolah, semuanya dia coba. Kamu bakal merasa geli membaca (dan melihat) cara Greg mewujudkan impiannya itu. Soalnya Greg itu tipikal egois dan merasa dia selalu benar, jadi lucu aja membaca segala alasan dia untuk ngeles dari kesalahan yang dia buat.

Secara umum, tiap buku serial Wimpy Kid ini menceritakan masalah Greg si tokoh utama dengan salah satu tokoh lain di sekitarnya (yang menjadi inti cerita). So, dari ketiga buku yang sudah aku punya, berikut adalah ringkasan per bukunya (spoiler alert):
Buku ane gan!
1. Diary si Bocah Tengil 1
Greg vs. Rowley
Di buku ini Greg yang sedang berusaha jadi populer, bermasalah dengan Rowley, sahabat Greg yang menurutnya sama sekali tidak keren. Pembaca akan dibuat sebal dengan tingkah Greg yang sama sekali gak punya rasa bersalah walaupun sudah membuat Rowley rugi. Tapi di akhir cerita, kita bakal jatuh cinta lagi pada Greg karena dengan caranya sendiri (yang penuh rasa 'ngeles'), dia bisa berbaikan dengan Rowley.





2. Diary si Bocah Tengil 2: Rodrick yang semena-mena
Greg vs. Rodrick
Sesuai judulnya, di buku ini fokus berada pada Greg dan Rodrick, kakaknya yang super jahil dan acuh tak acuh. Jadi di sini Rodrick memegang satu rahasia besar Greg yang dia jadikan alat buat menjadikan Greg sebagai bulan-bulanan. Apakah rahasia besar itu? Gak seru dong kalau aku kasihtau, yang jelas nantinya rahasia ini justru malah membuat Greg jadi salah satu siswa populer di sekolahnya, yang meleset dari dugaan Rodrick.





3. Diary si Bocah Tengil 3: Usaha Terakhir
Greg vs. Dad
Ini tentang Greg dan ayahnya. Ayah Greg ini super ketat dalam membuat Greg jadi anak yang sporty alias tukang olahraga. Padahal tau sendiri kalau Greg itu hobinya malas-malasan dan banyak alasan kalau disuruh apa-apa (mirip kita ya, hehe). Nah suatu hari ayah Greg memasukkan Greg ke dalam klub sepak bola yang bukannya membuat si ayah bangga tapi malah mempermalukan mereka berdua. Itulah kenapa Greg dan ayahnya sempat diam-diaman selama beberapa lama. Apa yang dilakukan Greg untuk berbaikan dengan ayahnya? Well, baca saja bukunya.




Hmm.. jilid ke-4 dan ke-5 aku belum sempat beli nih. Tapi aku bener-bener akan beli seandainya ada waktu. Orang bilang, picture speaks thousand words, so buat kamu yang lebih suka liat gambar daripada tulisan tapi males baca komik yang alurnya ribet, mendingan baca buku ini dan kamu akan ketagihan.
Beli di mana?

28.8.11

(on line) Manga Talk

Hi everyone!

This week I spent my time most likely by reading some online mangas. You know, if you like manga but for some reasons, you couldn't buy the printed version (I know, this is pathetic), then I suggest you to spare your time seeking your favorite manga and read it on line. There is an unwritten rules if you choose using online manga reader, you shouldn't copy it to your desktop or even print it to publish by your own.

So, by the way, I decided to share where you can read online mangas. But before that, I want to share what I read this week and hopefully this can be such a guide. Just click on the title to get a link to see the mangas. I like various themes of mangas. Please note that everything here is just depend to my personal interests, so if you think you don't like any, just leave it.:)

1
This manga is written by Yukari Kawachi sensei. Such a vintage manga, but trust me, I like everything made by her and I've been searching this title for years! Hm..it's a shoujo manga, told us about a half-breed girl born from a demon father and an angel mom. This girl, when she turned adolescent, she could show her power both as an angel or demon. Problem is, she lived in a human world and also fallen for a human boy. So you could imagine the problems. Impressions: funny, romantic.
Arisu Ga Fushigi by Yukari Kawachi

2
Written by Hiroyuki Eto sensei. This is a very children story. The characters are drawn in chibi style (every character are half in sizes). The story told us about a game-like adventure, about a boy who destined to be a Hero to save the world, along with a magician girl who's so clumsy and still need more practice. I like this manga because its funny and ridiculous. Recommended for the comedic lovers.
Mahoujin Guru Guru by Hiroyuki Eto

3
A horror manga from Yukito Ayatsuji and Hiro Kiyohara. If you like Asian horror (like The Rings, Ju-On, Shutter) then you should try reading this manga. Its scary from the beginning. Guaranteed. PS: I really really adore their artwork. Uhm..may I copy your style, sensei? :P
Another by Yukito Ayatsuji

4
A light love story from my favourite mangaka, Aya Nakahara sensei. The manga told us about Minami Misora, a not so bright student who's forced to school in a high quality gakuen. At first she hate anything about studying but she changed her mind when she fell in love with the-not-so-bright-boy, Koji Kun. This manga is so light and fun to read.
Benkyou Shinasai by Aya Nakahara

5
Aaaaah I love Lovely Complex! This is also made by Aya Nakahara. Since I bought the second book because of random picks, I eventually fall in love with this manga. It is about Atsushi Otani, a shorty boy with his bestfriend, Risa Koizumi, a very tall girl. Things are getting ridiculous when they realized they have feeling for each others. With funny conversations here and there, I sure you'll laugh a lot when read it.
Lovely Complex by Aya Nakahara

6
It's from Youko Kamio. Happen to know about a film titled "Meteor Garden" or "Boys Before Flower"? Yeah, it was originally coming from her manga. Well then I found this manga (also written by her) and totally fall in love. She always manage to make an emotically up beat manga, means you can feel the characters' emotion so deeply without losing the interesting story. I even wanna cry everytime I read the sad section. Anyway, this manga told me about an actress, who suddenly got no confident because of a betrayal from her own best friend. How did she overcome her problem is the main point. You'll get a lotta life lesson, and somehow this character will remind you about yourself.
Cat Street by Youko Kamio

7
Unlike the other comics, this one is different because it made by a Korean artist. Yes, instead of calling it 'manga', it supposed to named as 'manhwa'. The comics is written by Baek Hye Kyoung. This is a gender-bender manhwa. The main character is a girl who forced to be a boy and built as an idol star.
Chiro Star Project by Baek Hye Kyoung


Oops, did I write too much? :P

As promised above, here where you can read some online mangas. If you find other useful manga sites, please let me know! :)

26.6.11

A Rocket to New York

Menjadi penulis novel sekaligus pernah menjadi bintang tamu dalam acara talk show kenamaan Indonesia, Kick Andy di Metro TV, ternyata tidak menjadikan Iwan Setyawan menjadi salah seorang yang kutau. Okelah, mungkin aku agak kuper. Karena malam kemarin, sahabatku Azizah memberiku undangan itu. Undangan seminar 'pendidikan determinasi' (aku lupa judul lengkapnya). Dia bilang, seminar-nya berlangsung sore hari di gedung Fakultas Ekonomi Unpad Bandung. Karena rumahku jauh dari Bandung, aku kurang tertarik. Lalu dia menambahkan, pembicaranya adalah Iwan Setyawan. Aku berpikir, memang Iwan Setyawan itu siapa? Azizah bilang, beliau pernah tampil di Kick Andy.

Spontan, aku pun browsing dari ponselku untuk mencaritahu. Jujur, aku tidak terlalu suka ke acara seminar yang tidak menawarkan sertifikat (tipikal semua job seeker) makanya aku harus punya alasan kuat untuk menghadiri seminar itu. Dan ternyata.. Iwan Setyawan itu adalah novelis '9 Summers 10 Autumns' dimana buku itu sedang best seller di beberapa toko buku akhir-akhir ini. Hmm aku belum pernah dengar atau baca buku beliau (bukti betapa kuper-nya aku saat itu), tapi terpengaruh oleh beberapa resume di internet bahwa di novel itu, diceritakan pengalaman mas Iwan yang asalnya anak supir angkot di kota Malang, bisa sampai bekerja di sebuah perusahaan besar di New York - benar, New York yang itu - tiba-tiba aku jadi bersemangat. Kurasa, mungkin aku bisa datang, karena saat ini aku sangat membutuhkan motivasi-motivasi seperti itu. Belakangan aku memang sedang berpikir untuk mencari kesempatan kuliah di luar negeri.
1. Mas Iwan Setyawan, novelis 9 Summers 10 Autumns
Singkat cerita, hari ini aku pun datang bersama Azizah ke acara seminar yang dimaksud. Kami datang sedikit terlambat sehingga ruangan seminar sudah terisi setengahnya. Mas Iwan sudah berdiri di stage. Melihat beliau, kesan pertama adalah sederhana, humble, tipikal orang Jawa kebanyakan. Ibaratnya kalau suatu saat ketemu di jalan, kamu gak akan pernah nyangka bahwa mas Iwan ini,  sebenarnya adalah orang luar biasa yang menjalani beratnya perjuangan hidup hingga bisa seperti sekarang. Tapi beda cerita saat kamu sudah mendengar kisah hidupnya. Aku jamin, beliau benar-benar orang yang cerdas dan itu sangat terlihat dari tutur kata dan bahkan pilihan kata serta gesture-nya.

Bayangkan seorang anak desa biasa, dengan ayah seorang supir angkot dan ibu lulusan SD. Mereka hidup dalam kemiskinan sehingga harus berbagi kamar tidur dalam rumah kecil mereka. Suatu hari, Iwan kecil punya mimpi. Ia ingin jadi orang kaya karena kalau dia kaya, dia bisa punya kamar sendiri. Mimpi yang sangat sederhana. Tapi ternyata berkat mimpi itulah, mas Iwan berusaha keras mewujudkannya, hingga ia menjadi murid tercerdas di sekolahnya, bahkan di fakultas-nya, di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Perjuangan itu tentu tidak mudah, karena tentu saja untuk kuliah, seseorang harus punya uang ekstra. Dan untuk itu orang tua mas Iwan sampai rela menjual satu-satunya angkot sumber mata pencaharian mereka. Jadi kalau saja mas Iwan tidak kuliah dengan benar, maka pengorbanan itu akan sia-sia. Untungnya itu tidak terjadi. Dan kini inilah beliau, salah satu direktur di perusahaan internasional yang berjuang dari nol berkat mimpi kecilnya itu. Beliau menekankan, bahwa semua itu terjadi berkat Tuhan dan ibunya. Ibuk, demikian panggilan mas Iwan pada ibunya, adalah orang yang 'intelectually enlighted', tercerahkan secara intelektual sehingga walaupun beliau hanya tamatan SD, beliau tidak mendorong anaknya untuk menjadi tamatan SD juga.

Semua ini membuatku berpikir, aku punya ibu yang juga 'intelectually enlighted'. Ibuku bukan sarjana, beliau hanya lulusan SMA namun sekarang dua dari tiga anaknya sudah lulus sarjana. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah aku akan menjadi seperti mas Iwan atau tidak? Atau malah lebih? Yah.. apapun yang terjadi dengan hidupku, aku yakin, dengan berpegang pada kekuatan mimpi, dibantu usaha dan do'a dari ibu dan orang-orang terdekat, kita bisa menjadi apapun asal kita cukup kuat untuk tidak mudah menyerah.

Oh ya, di akhir seminar itu, aku dan Azizah bersama banyak orang lainnya mengantri untuk mendapatkan tanda tangan mas Iwan dan berfoto bersama. Sayangnya, tidak ada satupun dari aku dan temanku yang sudah punya buku itu. Tapi kebetulan sekali saat itu Azizah membeli sebuah majalah, dan di salah satu halaman terdapat foto patung liberty dengan tulisan NEW YORK besar-besar di atasnya. Beruntung sekali mas Iwan mau menandatangani halaman itu. Di situ tertulis, "untuk Dedew dan Azizah, New York is waiting!". Mungkin mas Iwan tidak tau betapa kalimat tadi sangat membuat kami euforia. Kami bahkan men-scan halaman itu dan mencetaknya sehingga bisa kami pajang di mood board atau semacamnya. Mudah-mudahan saja hal itu tercapai dan suatu saat kami bisa menginjakkan kaki kami di Big Apple, New York, atau dimanapun tempat kami nantinya.
2. He signed the page!!

Satu lagi, mungkin kalian bertanya-tanya apakah akhirnya mas Iwan dapat mencapai mimpi kecilnya itu? Jawabannya sangat obvious. Silakan tebak sendiri. :)
Book signing session

17.6.11

A Sookie Story

Tanpa bermaksud ngebanding-bandingin tapi beberapa hari ini aku keranjingan baca novel serial Sookie Stackhouse dan rasa excited aku ngebaca novel ini lebih gede dibanding pas lagi baca Twilight Saga. Kenapa? Karena pada saat membaca novel tersebut,aku ngerasa kalau aku bener-bener masuk menjadi karakter di novel itu, yah jadi si Sookie-nya gitu. Si pengarang berhasil banget bikin pembacanya menyelami karakter tokoh utama dan bahkan punya sudut pandang yang sama dengan tokoh tersebut terhadap tokoh-tokoh lain yang bermunculan. Well, bukan 100% kehebatan pengarangnya juga sih, tapi penerjemahnya bener-bener ahli banget sehingga alurnya tetep ngalir dan humornya tetep kerasa lucu.

-1- Buku pertama Serial Sookie, versi terjemahan Indonesia

Serial Sookie Stackhouse ini, atau kalau di versi baratnya dibilang "A Southern Vampire Mystery" (Kisah vampir dari selatan), menceritakan tentang Sookie, seorang pelayan bar di daerah Bon Temps (Louisiana, USA) yang cantik namun aneh. Dibilang aneh karena dia bisa baca pikiran sehingga orang-orang di sekitarnya sering gak nyaman. Itulah sebabnya kenapa dia gak bisa punya pacar karena yah, apa sih enaknya pacaran sama orang yang bisa baca pikiran kamu? Semua berubah saat dia ketemu vampir (Bill Compton) yang jadi pacar pertamanya setelah aksi penyelamatan dramatis Sookie untuk Bill. Bill itu vampir,jadi Sookie gak bisa baca pikirannya. Layaknya semua kisah cinta dalam novel, Bill punya banyak saingan. Ada Eric, vampir yang juga atasan Bill; Alcide si werewolf; Quinn si weretiger; Calvin si werepanther dan Sam, bos bar yang ternyata seorang shape shifter (heran deh ko satu cewek direbutin sama makhluk-makhluk be-gi-ni).

Setelah mengalami berbagai peristiwa heboh di dunia penuh makhluk supernatural itu, Sookie akhirnya disadarkan kalau ternyata dia punya darah peri (ini menjelaskan kenapa Sookie begitu menarik di mata pria2 supernatural itu). Nah singkat kata, di buku terakhirnya, ada dua cowok (vampir) yang bersaing ngerebutin Sookie: Bill dan Eric. Jelas banget kalau Sookie milih Eric (coba liat ilustrasi cover novel yang versi aslinya:gambar Eric si vampir pirang banyak banget) tapi di saat2 terakhir, Sookie tiba2 merasa cinta lagi pada Bill. Dan, yang lebih nyebelin lagi, di buku terakhir, ujungnya masih ngegantung: kita cuma bisa nebak2 apakah Sookie itu akhirnya tetep cinta sama Eric atau balik lagi sama Bill. AAArrrgh.

Oke jadi apa hubungannya Sookie Stackhouse sama Twilight Saga? Gak ada sih, tapi kedua serial ini ngasih cerita yang temanya sama, tentang vampir yang jatuh cinta dengan manusia. Tapi sudut pandang dan penerjemahan mitos ke dalam dunia nyata dalam kedua novel itu cukup berbeda. Kalau di Twilight Saga, vampir itu gak takut matahari, bawang putih atau perak, maka di Serial Sookie semua mitos tersebut masih dibenarkan. Bahkan di Serial Sookie, vampir-vampir masih tidur di siang hari di dalam peti mati sementara di Twilight vampir sama sekali gak pernah tidur. Tapi untuk masalah penggambaran fisik, dua-duanya hampir sama. Misalnya vampir digambarkan sebagai makhluk yang sempurna secara fisik, mempunyai daya tarik yang luar biasa namun tetap memiliki sisi seram-nya sendiri - secara mereka itu orang mati yang hidup lagi menjadi makhluk lain.

Oke, tinggalkan masalah vampir. Tentang tokoh utamanya, yang ini ada miripnya ada bedanya. Kalo miripnya, Sookie Stackhouse dan Bella Swan (Twilight Saga) jelas sama-sama cinta vampir, terus sama-sama gak tegas dalam hubungan cinta (keduanya gampang banget digodain cowok.yikes), sama-sama punya kelebihan layaknya paranormal (Sookie bisa baca pikiran, Bella bisa bikin mind shield) dan dua-duanya punya pandangan skeptis soal hidup. Bayangin aja, Sookie yang yatim-piatu sejak kecil dan sering banget dianggap gila gara2 kemampuan baca pikirannya itu, tentu aja dia bersifat tertutup. Tapi seenggaknya dia pemberani dan menjunjung tinggi formalitas - oke ini mungkin bukan sifat baik. Sementara Bella, dia clumsy banget dan jauh lebih gak tegas dibanding Sookie. Sifat nekatnya itu nyebelin banget. Hmm mungkin karena kedua tokoh tersebut beda umur kali ya. Sookie dewasa muda sementara Bella itu pada dasarnya abege yang masih serba labil. Over all, aku suka dua-duanya.

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan lagi nih, tapi kalau dari segi cerita, aku lebih suka Sookie. Kenapa? Karena kompleksitasnya (yang emang karena Sookie itu novel dewasa) lebih dalem dan gak seremeh-temeh masalah-masalah hidupnya Bella Swan. Kalau gak dibantu dengan visualisasi novel ke dalam film yang penokohannya kuat banget (oh yeah siapa juga yang gak suka Edward atau Jacob di Twilight), kayaknya agak males juga ya nyimaknya. FYI, aku pernah sempet rehat ngebaca Twilight pas di buku Eclipse karena Bella-nya ngotot banget pengen jadi vampir. It's annoying me. Buta banget sama cinta. Labiiiil. Ah tapi gatau juga kalau kita ada di posisi Bella, bayangin aja dicintai vampir sekeren Edward gitu. Brrrr. Ohiya tapi aku belum nonton Sookie yang versi TV sih. Judulnya True Blood. Yang jadi Sookie-nya Anna Paquin (agak meleset dari bayangan aku tentang Sookie).

-2- Twilight Cast
-3- True Blood Cast

Balik lagi ke masalah bukunya, Sookie itu dibikin oleh Charlaine Harris dan semuanya ada 8 buku:
1. Living Dead in Dallas
2. Club Dead
3. Dead To The World
4. Dead as a Doornail
5. Definitely Dead
6. All together Dead
7. From Dead to Worse
8. Dead and Gone
Aku sempet bingung pas awal-awal baca karena prolog-nya kayak resume gitu (jadi ceritanya bener-bener disingkat-singkat) dan ternyata eh ternyata itu merupakan resume dari novel prolog-nya: Dead Until Dark. Terus katanya lagi taun lalu ini ada buku lanjutannya, Dead in the Family,cuma belum ada versi bahasa Indonesia-nya * gile ye, semua judulnya ada kata "dead" (mati). Hmm berarti gak bener-bener ada delapan juga dong tuh serial. Yang versi Indonesia, penerbitnya Esensi (Erlangga group). Terjemahannya bagus. Enak banget dibaca. Tapi pliss diinget novel ini banyak biru-birunya (BB 17) jadi jangan baca dulu kalau belum cukup umur. Hohoho.
-4- Full series
-5- Prologue and epilogue

Next time aku pengen banget baca novel vampir-vampiran yang lain. Di list aku udah ada Anita Blake (Lauren K. Hamilton), Vampire Diaries, terus Dracula (belum baca nih). No matter what you think, may be I am a fang banger (semacam fan pire) far before Twilight fever. Cool huh? (atau weird mungkin?)