29.3.18

Our DIY (Kind Of) Wedding Invitation

77 Days Before

"A, aku izin buat konsep undangan sendiri ya? Nanti aku kasih liat ke Aa supaya bisa dikoreksi kalau ada yang gak pas."

Gitu ujarku hari itu. Alhamdulillah calon suami langsung mengiyakan. Malah dia senang sekali karena nanti undangan itu bakalan jadi karya kita berdua yang perdana, hehe. Nah mumpung senggang, saya mau bahas khusus deh. Sengaja saya tulis agak detail di sini kali aja ada yang mau buat undangan pernikahan sendiri juga. Lebih puas loh kalau bikin sendiri hehe.

Tema besar dari semua benda "cetak" kami adalah biru dan hijau. Dominannya sih putih, biar kesannya tetap clean.

01 Cari Inspirasi

So tanpa banyak menunda, saya - yang memang sebenarnya sudah sempat riset sendiri soal undangan ini - segera mengirimkan link Pinterest Board saya ke calon suami. Btw Pinterest itu salah satu surganya inspirasi visual menurut saya. You could just insert your keyword there and they will offer you a lot of choices. Kita tinggal tandain aja yang kita suka dan bikin board sendiri. Kalau udah gitu, kali-kali dibutuhkan, kita bisa lihat ulang per kategorinya.

28.3.18

Adjusting, Adjusting, Adjusting

Was I hard to impress? Gak juga yah.. namun karena kebiasaan "mengatur" dan punya sifat agak-agak control freak dari lahir, akhirnya saya, atas kesepakatan bersama, berupaya "mengatur" pernikahan saya sendiri. By sendiri sebenernya tentunya berdua, dengan sang calon suami. Kita sepakat juga 'gak hire WO karena WO itu 'kan perlu banyak rapat - entah tatap muka entah via WAG tapi kami berdua 'gak akan sempet. Kita 'gak pernah bisa tinggalin semua ke WO - tetep perlu ada monitoring dan lainnya. Sementara saya dan suami tuh sibuk, dan ada di kota yang berbeda (saya di Palembang dan suami di Bekasi) sedangkan tempat walimah kami rencananya diadakan di kota asal kami: Sumedang. Ribet bukan? Terlebih, kasian kalau orang tua kami kudu direpotin untuk ngurusin pernikahan kami para lajang berumur matang ini haha.

Did I have my own criteria for the so-called dream wedding? Ya dan tidak. Ya karena ada beberapa hal yang saya tidak akan pernah mau dan tidak, karena ada beberapa hal yang saya mau-mau saja. Jadi 'gak ada kemauan spesifik sih sebenernya. Cuma saya "gak mau"-nya lumayan banyak! Haha. Suami saya pada dasarnya orang yang sederhana dan tidak banyak maunya. Namun sekali ada kemauan, pasti dia akan usahakan sesempurna mungkin - ini agak beda dengan saya yang maunya apa-apa cepet dan ringkas hihi. Tapi itu seninya. Perlu musyawarah dan komunikasi yang baik. Toh selalu tercapai kata sepakat dan selalu kompak pada akhirnya. Alhamdulillah.

Did our parents had their own rules for us having our wedding? Hampir tidak ada! Bahkan alhamdulillah banget kami tidak "dipaksa" menentukan hari baik segala macam. Simply melihat hari libur dan permainan tanggal belaka hehe. 'Gak ada juga keharusan menyewa pawang hujan - what's that for anyway! Mereka benar-benar helpful tanpa mengatur yang berlebihan, namun tetap menyediakan saran dan nasihat bermanfaat setiap kali diperlukan.

So semuanya tentang penyesuaian: adjusting, adjusting, adjusting. Jika tidak, maka susah buat progressing dan khawatir akan keteteran. Jadi di sini kita akan membicarakan beberapa adjustment yang kami lakukan dalam merencanakan walimahan.

Again, kami sibuk dan berjauhan. Jadi waktu kami yang sudah sempit itu jadi tambah sempit dalam mengurus pernikahan ini. Tapi apapun itu, we should start somewhere, right?

139 Days Before

So then we started with.. menentukan mahar. Lha iya, yang penting dulu nih yang diurusin yaitu syarat sah nikah hihi.

Ilustrasi by @tweedledew.

8.3.18

30 Days to BPS Diary - The Final

PROLOGUE
They say, winner never quits, and quitter never wins. This, I believe, can't be applied in to all situation. There are times you should quit a thing to pursue another thing - which is better - and you're still able to win. So yeah, this is the drama. I wrote this on my Whatsapp and kept it updated day by day. For any blank days, it meant I was busy doing the rest of my work before my leaving.

Artwork by me.

H - 30
I finally had the courage to hand over the letter to my superior. Yeah, the letter that’s been in my draft since two months ago. I almost had a teary feeling especially when my superior told me that he’s already have plans to fill in after my leaving approved. But then I was okay. He’s so considerable and I was lucky to have a boss as wise as him.


9.2.18

Menantikan Umar

Assalaamu'alaykum, Umar!

Sebenarnya Ambu belum tahu kamu itu laki-laki atau perempuan. Tapi berhubung Ambu sangat ngefans dengan Umar Bin Khattab, R. A. dan Umar Bin Abdul Aziz, ya sudah sementara ini Ambu panggil Umar dengan sebutan Umar, ya. Hehe. Ambu tahu nanti Umar akan menjadi orang yang tangguh dan berjiwa pemimpin, namun tetap takut kepada Allah SWT dan cinta keluarganya. Hmm tapi Apa' bilang sih sebaiknya Ambu manggil Umar dengan sebutan Kafa. Singkatan nama panjang Umar nanti. Tapi Ambu masih lebih senang manggil Umar hehe. Gak apa-apa ya?

Umar sekarang udah berusia 5 minggu 4 hari looh. Kata dokter Casa, dokternya Ambu pas lagi hamil Umar, saat ini Umar baru sebesar biji jeruk! Hihi. Ukuran Umar baru 0,9 cm saja. Tapi Umar sekarang memang lagi bikin Ambu mabok dan tiba-tiba benci sama bau kencur (literally kencur). Membayangkannya pun Ambu mual huhu. Sabar ya, Umar. Kita 'gak akan makan yang ada kencur-kencurnya dulu kok. Kita makan yang lain aja. Dari kemarin kita cuma makan apel sama buah pir. Sesekali makan kemplang. Itu loh, kerupuk Palembang yang enak banget itu. Ambu harus ngunyah terus nih biar kita gak pusing dan mual.
Ambu, Apa' dan Umar.

Untungnya, Apa' baiknya di luar batas kewajaran hehe. Walaupun sekarang Ambu dan Apa' lagi jauhan (Apa' di Bekasi, Ambu di Palembang), Apa' 'gak pernah marah-marah sama Ambu kalau Ambu lagi moody karena hormon kehamilan ini. Lagi males makan, lagi mual... Apak tetep baik dan sabar. Apa' selalu menyemangati Ambu supaya kuat dan tangguh. Supaya gak boleh kalah ama hormon, 'kan kita punya Allah SWT yang Maha Kuat, yang 'gak bisa dibandingin ama hormon hamil doang. Apa' sayang banget sama Ambu dan Umar. Alhamdulillah ya.

Tapi sebelum ini, sebetulnya Umar pernah ada di rahim Ambu lho.