Showing posts with label Artsy Project. Show all posts
Showing posts with label Artsy Project. Show all posts

10.1.21

Let's Read: Bawa Ia Ke Dunia Nyata Bersama Si Kecil

Dewasa ini, kita sudah sering mendengar anak bayi yang "diasuh" gawai sementara orang tuanya pontang-panting menyelesaikan pekerjaan kantoran (yang kini dibawa ke rumah berkat pandemi), atau tugas domestik si perfeksionis dimana masakan di rumah harus terdiri atas empat macam dan semua baju harus tersetrika rapi. Padahal, menikmati gawai sebelum usia mereka dua tahun, sebetulnya tidak disarankan sebagaimana dilansir oleh WHO .




Bagaimana dengan Faruki?

Jujur saja. Faruki sudah nonton TV sejak usianya delapan bulan. Tidak benar-benar menonton, tentunya. TV hanya menyala saja di rumah sebagai suara latar. Supaya kami tidak benar-benar merasa hanya berdua saja saat Appa-nya kerja. Lalu di usianya yang ke lima belas bulan, ia mulai kenal laptop dan Youtube. Bermula dari akal-akalan Anbu supaya ia mau makan. Iya, iya. Memang ini salah. Bermain bersama sudah paling bagus, setuju?

Saat ini saya sedang merasakan pahitnya permisif terhadap gawai - yang walaupun tidak berlebihan, namun tetap terlalu dini - dimana Faruki belum mempunya kosa kata sebanyak anak lain yang seusianya menurut milestones tumbuh kembang. Padahal sejak hamil, kami membacakan buku untuknya. Saat ia masih bayi pun, ia disusui sambil dibacakan buku. Sekarang pun masih ada rutinitas membaca buku setiap harinya. Lalu, kenapa semua rasanya runtuh gara-gara sebongkah gawai saja?

7.8.19

Mari, Bung! Rebut (Literasi Unggul) Kembali - Strategi Win Back


Cita-cita luhur negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai UUD 1945, sebagaimana dipetakan juga dalam visi Kemdikbud 2025 yakni membentuk insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif (insan kamil/paripurna), mendorong diperlukannya peningkatan, bahkan pembenahan di berbagai aspek pendidikan. Salah satunya adalah literasi - yang menurut KBBI berarti, kemampuan membaca dan menulis. Sejarah emas bangsa ini telah merekam bagaimana orang-orang hebat pencetus kebangkitan nasional dibesarkan melalui aktivitas literasi. Sebut saja Bung Karno yang pernah menulis naskah pidato Indonesia Menggugat yang fenomenal itu, Bung Hatta yang bahkan rela dipenjara asal bersama buku, atau dr. Sutomo sang pendiri Budi Oetomo yang menggunakan literasi sebagai salah satu senjatanya dalam pergerakan melawan penjajah Belanda.

“Buat banyak orang penjara itu tempat yang buruk, tempat yang tidak ada enak-enaknya, tidak ada yang baik. Tapi buat Bung Hatta, penjara adalah ruang semedi, ruang pertapaan di mana orang bisa memperkuat watak, memperkuat iman, terutama jalannya adalah dengan membaca,” (J. J. Rizal, sumber).

Jadi sebetulnya, kita pernah unggul! Lantas, apa yang bisa upayakan untuk kembali unggul seperti di zaman para pendiri bangsa ini? Agar kita, juga anak-anak kita, generasi alfa penerus bangsa tidak terlena dengan percepatan kemajuan teknologi yang tersederhanakan dalam sebuah gawai saja?

Gambar oleh Dewiif.

Ya. Kita membutuhkan sebuah program Win Back.


Dalam istilah pemasaran, program ini dilakukan saat pemasar menggunakan sejumlah cara untuk merebut kembali pelanggan lama yang sempat berhenti bermitra - entah karena sudah beralih ke produk kompetitor, entah sudah tidak tertarik, dan sebagainya. Menariknya, hal ini dapat kita terapkan sesuai dengan analogi “kegiatan berliterasi” sebagai produk, sedangkan mitranya adalah kita sendiri.

27.1.19

Akhirnya Pameran di Galeri - Laporan Rekreasi Garis 2018

Suatu hari, Mayumi Haryoto, seorang ilustrator kawakan, berbagi tentang tujuan jalan hidup seniman: mau berakhir di galeri atau di industri? (Ada juga sih yang bisa dua-duanya. Tapi, biasanya orang fokus di salah satu).

Waktu itu yang terpikir oleh saya, tentu ingin di industri. Sepertinya asyik, ketika hobi menjadi pundi-pundi materi. Tapi jadi seniman galeri juga keren, sangat keren bahkan. Karena punya kesan serius. Saya dulu ingin jadi seniman serius. Yang seperti Pak Raden Saleh atau Affandi. Yang membuat lukisan penuh arti. Yang intelektualitas dan kreativitasnya tinggi.

Kemudian saya pikir seniman industri dan galeri ternyata punya kesamaan. Sama-sama butuh kesungguhan, ketekunan, dan yang paling penting: komitmen.

Hayo.. yang mana karya saya..
Sebenarnya, menjadi seniman bukanlah profesi favorit generasi baby boomers seperti orang tua saya. Panjang sekali waktu yang dibutuhkan untuk mendapat restu mereka. Terutama ibu. Padahal kegemaran saya menggambar (dan menulis) semuanya menurun dari ibu. Ibu bilang, bekerja di bidang seni dan literasi tidak menjanjikan. Padahal berprestasi di bidang akademis atau sains di zaman sekarang tidaklah lebih berkelas dibanding bidang lainnya seperti anggapan zaman dulu. Hari ini orang bisa hidup dari mengunggah konten di kanal sosmed, lho! Mungkin juga seniman sedang jaya-jayanya. Konten menarik memiliki nilai sendiri saat ini.

Kemarin sebuah pencapaian itu datang. Salah satu karya saya terpilih untuk dipamerkan di Galeri Nasional, dalam rangka Pameran Rekreasi Garis 2018. Hampir dua tahun ini saya memang belajar urban sketching. Pernah ikut workshop dan lihat pamerannya beberapa kali. Sebenarnya saya mengirim dua karya, tapi yang terpilih hanya satu. Itu saja sangat tidak disangka, dan sudah terasa menyenangkan!

29.3.18

Our DIY (Kind Of) Wedding Invitation

77 Days Before

"A, aku izin buat konsep undangan sendiri ya? Nanti aku kasih liat ke Aa supaya bisa dikoreksi kalau ada yang gak pas."

Gitu ujarku hari itu. Alhamdulillah calon suami langsung mengiyakan. Malah dia senang sekali karena nanti undangan itu bakalan jadi karya kita berdua yang perdana, hehe. Nah mumpung senggang, saya mau bahas khusus deh. Sengaja saya tulis agak detail di sini kali aja ada yang mau buat undangan pernikahan sendiri juga. Lebih puas loh kalau bikin sendiri hehe.

Tema besar dari semua benda "cetak" kami adalah biru dan hijau. Dominannya sih putih, biar kesannya tetap clean.

01 Cari Inspirasi

So tanpa banyak menunda, saya - yang memang sebenarnya sudah sempat riset sendiri soal undangan ini - segera mengirimkan link Pinterest Board saya ke calon suami. Btw Pinterest itu salah satu surganya inspirasi visual menurut saya. You could just insert your keyword there and they will offer you a lot of choices. Kita tinggal tandain aja yang kita suka dan bikin board sendiri. Kalau udah gitu, kali-kali dibutuhkan, kita bisa lihat ulang per kategorinya.

22.7.12

Publish or Perish: A Blogger History


This time I want to tell you something about the reason why I’ve got this blog, which is, they said, wasting time and energy. So if you are curious enough about what is behind this blog, you can keep reading. But it’s gonna be very, very long. You've been warned.

It started when I was a little kid, like, 18 years ago when I saw my mother’s drawing on an old book. She drew these four beautiful women: two worn nice veils, one with a high hair bun, and one with a long banged hair.



For one moment I was paralyzed. I said to myself, how can human draw this beautiful and perfect? So then I’ve become a big fan of my mother’s drawing and asked her to draw and draw and draw again, like million times, even as I remembered, she was pregnant for my younger brother and too tired to draw. Until one day, she got annoyed and she said she wouldn't draw me anymore.