Saya selalu yakin bahwa di dunia ini tidak ada seorang pun yang tidak suka pada segala sesuatu/keadaan yang rapi. Permasalahannya adalah apakah orang ini mau atau tidak melakukan aktivitas rapi-rapi ini? He-he. Di masa lalu, saat masih sering dinas ke luar kota dan tinggal beberapa hari di sebuah hotel, rasanya kamar hotel nyaman dan menyenangkan karena setiap kita kembali dari luar, ia telah rapi. Tentu saja karena room boy yang budiman telah berjasa merapikannya. Kini setelah berumahtangga ketika masalah rapi-rapi ini menjadi tanggung jawab bersama sekeluarga, kemewahan seperti itu sudah tidak ada lagi. Kita perlu menjadi room boy untuk diri sendiri (kecuali anda Bruce Wayne yang punya "room boy" pribadi bernama Albert). Jika tidak punya kesadaran untuk mengambil alih tugas rapi-rapi, selamanya rumah tidak akan rapi.
Tidak rapi, rasanya tidak menyenangkan.
Ah, aku mah orangnya gini.Ah, aku 'kan emang gitu.
Ya gimana, 'kan aku orangnya berantakan.
Saya belajar (terutama) dari suami saya sejak menikah bahwa hal-hal semacam itu tidak memberdayakan karena semakin diulang-ulang, ia akan menjadi sebuah label. Menjadi penghalang untuk berkembang. Kita tentu ingat kisah gajah yang dirantai selama bertahun-tahun hingga ia tidak bisa kabur. Tiap kali mencoba kabur, kakinya akan terluka. Kemudian ketika suatu hari rantainya dilepas dari pengikatnya, gajah ini tetap tidak berusaha kabur karena telanjur merasa bahwa kabur akan membuatnya terluka. Kasihan, ya, gajahnya.