Showing posts with label BPS Diary. Show all posts
Showing posts with label BPS Diary. Show all posts

8.3.18

30 Days to BPS Diary - The Final

PROLOGUE
They say, winner never quits, and quitter never wins. This, I believe, can't be applied in to all situation. There are times you should quit a thing to pursue another thing - which is better - and you're still able to win. So yeah, this is the drama. I wrote this on my Whatsapp and kept it updated day by day. For any blank days, it meant I was busy doing the rest of my work before my leaving.

Artwork by me.

H - 30
I finally had the courage to hand over the letter to my superior. Yeah, the letter that’s been in my draft since two months ago. I almost had a teary feeling especially when my superior told me that he’s already have plans to fill in after my leaving approved. But then I was okay. He’s so considerable and I was lucky to have a boss as wise as him.


12.12.12

Laboratory going Safety

Okay, first of all, I apologize for my posts are not made in English recently. It's simply because I'm quite busy with my "BPS" life (my work place) and rarely make drawings or illustrations. So, please enjoy the pictures below and I must tell you, I'm gonna do English (and illustration) posts again very soon. :)

Ehem...jadi kemaren 'kan aku pernah cerita kalau program BPS sudah resmi ditutup pada akhir November kemarin, dan sekarang kami sudah diangkat (sejak 1 Desember 2012 tepatnya) menjadi karyawan. Ya! Karyawan! Hehe. I always speechless kalau menyadari fakta ini. Tempat kerja saya ini dipenuhi anak jurusan teknik. Dan saya, ehem, MIPA.

Oke deh, anak MIPA yang suka menggambar. :D

Sejarahnya panjang. Jadi dulu itu memang perusahaan saya butuh beberapa orang lulusan sains murni (baca: kimia) untuk ditaro di lab. Dan saya juga pernah cerita kalau saya kemarin OJT paling lama di lab. Makanya aku sih udah siap-siap aja kembali ke "habitat" awalku waktu kuliah (as a lab rat, of course). Sampe-sampe di kosanku yang di Cilacap itu, barang-barangku masih kutinggal di sana. Karena emang biasanya tempat OJT yang didiami dalam waktu lama itulah yang bakal jadi tempat kerja kita nantinya.

Dan eh, saya salah sangka!

25.11.12

End of Chapter

Dear readers and friends, ternyata gak kerasa sudah setahun (gak bener-bener setahun sih) saya mengalami yang namanya "training BPS". Means, training-nya sekarang sudah selesai. Means, saya akan segera memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Di mana kesalahan seperti apapun, seyogyanya tak termaafkan dan tidak ada dalih "karena masih OJT" lagi. Well, begitulah. Kayaknya waktu cepat sekali berlalu. Pas lihat-lihat foto sebelum dan sesudah BPS ini, kok kayaknya banyak yang berubah ya. Inilah yang membuat saya tergerak untuk mengulas timeline BPS, khususnya dari saya pribadi. Buat yang sudah sering baca mengenai BPS Diary sepertinya sudah gak asing lagi sih. Tapi okelah saya bahas sedikit aja. Bahas dalam foto. (Lagi kelu nulis nih hehe).



1
Cikole

Bisa dibaca di sini dan di sini.

13.11.12

Catatan OJT III: the Edge is Close

Hal yang kurang ngenakin kalau punya blog adalah, gerakan sama pikiranmu jadi bisa kebaca orang. Hehe. Yah.. tapi itu resiko sekaligus tantangannya. Bagaimana kamu berhasil mem-branding dirimu sendiri tanpa membiarkan orang mengetahui segalanya. Ok, without further ado, hari ini adalah hari terakhir saya di Cilacap. Bentar lagi bakalan capcus ke PLC setelah satu tahun masa pendidikan dan OJT di berbagai tempat.

A memento, for my lab head (a. k. a. my boss-to-be). In case aja, siapa tau saya gak balik lagi ke sini. Hiks.

30.10.12

The Bloody KKW

Ehehm.. as usual, the "BPS Diary" will be written in Bahasa Indonesia (it's just too complicated to tell in English *ngeles).

Dari judul di atas mungkin sudah sangat obvious alias ketahuan banget kalau ini cerita detik-detik menegangkan dan berdarah-darah pas digentayangi deadline KKW. (Yang sudah lupa apa itu KKW, monggo buka postingan saya yang ini.) Yes, right. Jadi sekitaran awal Oktober kemarin, aku kelimpungan dengan KKW-ku yang belum kelar. Tau sendiri lah gimana perfeksionis dan terencana-nya dirikyu ini (baca: pemalas dan penunda). Akhirnya, dengan kekuatan "the power of kepepet" yang digembar-gemborkan Dewa Nuriz (siapa pula Dewa Nuriz? hehe), dengan ini KKW saya nyatakan:

SELESAI

TAMAT

THE END

Ternyata belum tamat.
Etttsss tapi tunggu dulu. Semua ini belum berakhir! Aku masih punya Pe-eR bikin presentasi powerpoint si KKW ini. Hmm sebenarnya sih udah nyicil sejak KKW dibuat, karena saya biasanya lebih mengedepankan tugas yang agak kurang penting tapi penuh detail seperti bikin powerpoint dibanding makalah-nya yang jelas-jelas harus mencapai 20 halaman A4 itu. Ditambah lagi, saat itu kepalaku mumet gak ketulungan. Mencari inspirasi nulis KKW itu ternyata gak segampang nyari bahan buat ditulis di blog. Hmm at least kalau di blog aku gak terlalu concern soal judge dari pembaca. Ini ruang publik lho. Tapi KKW? Yang bacain mungkin pembesar-pembesar di PLC sana. Sekecil apapun kesalahan, bisa jadi poin minus buat kehidupan trainingku. Terus, sempet-sempetnya pula gigi geraham bungsuku impaksi sehingga ada beberapa minggu penuh darah (karena habis cabut gigi) sebelum KKW selesai. Oke. Pembukaannya kepanjangan.


18.9.12

Awkward Days?

Ini sebenarnya bukan cerita yang penting. Tapi aku gak tahan untuk gak menceritakannya. Jadi gini, kira-kira saat ini mukaku mungkin bisa digambarkan seperti ini:



Semua ini ada alasannya.

Lima hari yang lalu

Ada acara training ISO, tempatnya di Bandung (O.M.G dah berjuta-juta tahun kayaknya aku gak nginjek Bandung yang notabene tempat lahirku ini). Dengan menghalalkan segala cara yang halal dan permohonan izin yang berlapis-lapis, aku yang sebenarnya belum boleh ikut-ikut dinas ini akhirnya diizinkan ikut, tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku. Dari Cilacap itu, kami berangkat pagi-pagi (13/09) dengan kendaraan travel yang kami sewa. Totalnya ada empat orang yang ikut, dua cewek dan dua cowok.

9.9.12

Kerja vs Pekerjaan


*Instead of doing my "KKW" project (oh yeah, I'll blab about this ugly part, later), I have something in my mind. It's not really motivating, though. It's just for sharing. Not to mention that this is not really applicable, it's just a random thought. So yeah, read as you like. It's in Bahasa Indonesia. I'm too lazy to make it English, fyi. :P


KKW? What?
Jadi gini..

Sebenarnya, apa sih yang kita cari dari bekerja dan pekerjaan itu? Apakah uang? Apakah jabatan? Apakah self-esteem? Apakah... (isi sendiri).

Aku pribadi melihat kerja dan pekerjaan sebagai dua hal yang berbeda namun gak bisa dipisahkan. Kerja itu.. semacam kegiatan yang kalau tidak dilakukan, malah jadi tanda tanya besar: kalau gak kerja, mau ngapain?

25.8.12

Drive to Survive

What I bring to work.

Kostum pabrik.
Akhir-akhir ini aku disibukkan dengan aktivitas di tempat kerja dan tempat tinggal sementara (baca: kosan). Tempat kerjaku ini letaknya di kawasan industri di Cilacap. Sedangkan tempat tinggal sementara-nya, kira-kira 4-5 KM dari tempat kerja (gak terlalu yakin juga sih soalnya aku buta jarak). Gak kerasa juga tau-tau saja aku di sini sudah mau sebulan. Dengan pekerjaan yang mulai terfokus (must I say, this is OJT IIIb!), dan tugas-tugas yang mulai jelas.

Kostum lab.
Ada berbagai macam hal yang membuatku kerasan dan juga kurang betah di sini. Yah..maksudku, memang selalu ada lebih dari satu sudut pandang dalam melihat sesuatu hal, termasuk pekerjaan ini.


Cuma satu hal yang agak menyebalkan di sini. Di sini super duper sepi (ini opini yang tercipta dari pemikiran lebay penulis semata) kalau dibandingkan dengan Jakarta (ya iyalah). Terutama dalam hal transportasi umum. Untuk orang yang gak bisa nyetir apa pun seperti aku, ini jelas kerugian besar! Sejak SMP aku terbiasa naik kendaraan umum untuk sekolah. Bahkan sampai kuliah dan kerja sampingan itu, aku masih setia dengan kendaraan umum meliputi angkot, ojek, dan bis damri.


12.8.12

DisMISSed!

Gara-gara suatu kejadian yang sangat bulliable, tiap kali mau ngepost di blog itu aku jadi keinget satu frase:

Kata-katanya begitu, padahal foto ini diambilnya siang-siang :P
Ha..ha.. dan kebetulan emang tiap kali ngepost itu jatohnya selalu malam-malam. Jadi bukan malam yang menyebabkan keinginan ngepost, tapi ngepost yang selalu inginnya malem-malem. Whatever deh.

Nyeduh kopi (kali ini Java Latte).
Gulung lengan baju.
Pasang headset.
Ngatur playlist.
Nyetel musik:

Madcon - Freaky Like Me ft. Ameerah
Florence & The Machine - Spectrum by Calvin Harris
DJ Laz - Move Shake Drop (Remix)

Cek koneksi*).
Blogging begin.

*kalau koneksi jelek, ngeblog-nya bisa batal, ketunda sampai berhari-hari sampai ada mood lagi :(

Yang pasti di sini aku ingin menuliskan sesuatu yang terjadi sebulan yang lalu, dan sebulan lamanya. Tadinya aku pengen tulis pas lagi di Semarang, tapi berhubung mood-nya gak dapet, jadinya sekarang deh. Loh loh..kok Semarang? Hmm aku belum bilang ya. Jadi gini, aku ada 3 jadwal OJT. Dua bulan pertama aku habiskan di Jakarta. Bulan berikutnya (Juli itu) harusnya aku udah ke Cilacap. Tapi ternyata! Jadwalnya diundur karena ada pendidikan tambahan selama sebulan, di Jakarta! Antara senang dan sedih waktu itu karena aku udah packing-packing (did you know how much I hate packing? see this post) dan bahkan sebagian barang sudah ditongkrongin di JNE buat dikirim ke rumah. Akhirnya karena jadwal yang tiba-tiba berubah itu, barangnya (untung belum dikirim) aku ambil lagi (dan kena charge). Betapa konyolnyaa.

20.7.12

Catatan OJT II: Juni


Sebenernya aku gak begitu yakin mau nulis apa di sini. Tapi berhubung aku sudah terlanjur menulis tentang OJT bagian I, maka rasanya akan jomplang kalau tiba-tiba bagian ke-II ini hilang, karena sebentar lagi OJT III malah sudah bakalan berakhir.

Jadi kenapa aku kurang excited di OJT II, karena bulan lalu aku seperti lagi berada di titik terendah kehidupanku. (lebay, noted). Bayangin aja, kakakku nikah dan aku gak bisa datang. Rasa sakitnya masih kerasa sampai sekarang lho. Terus, aku juga kepentok masalah childish issue. Hmm sebenarnya, jika moody dan uring-uringan adalah salah satu tanda ketidakdewasaan seseorang, mungkin aku tidak akan pernah jadi dewasa, karena moody sudah mendarah daging di tubuhku. Hehe. Udah gitu, karena suatu hal, aku dibilang “merajuk” sama teman-temanku. Hmm gak baik loh tiba-tiba membuat kesimpulan subyektif begitu. (sekarang kalian tau kenapa aku nulis tentang candy waktu itu). Entah ya, ternyata berusaha dewasa itu sulit. Apalagi kalau kamu jadi yang paling muda dan orang-orang gak yakin kamu bisa dewasa. Terlanjur ada cap “anak bawang” di jidatmu gitu loh. Gimana rasanya?

2.6.12

Catatan OJT I: Mei

Kali ini ada cerita mengenai pengalaman OJT pertamaku di tempat kerja. Jujur ini adalah pertama kalinya aku bekerja, maksudku, the actual job. Not the ghost-writer stuff or else. Makanya rasanya udah kayak excited, senang, tapi juga waswas. Maklum, aku punya banyak isu sosial. Seriously. Aku sering susah untuk ngomong di depan umum, atau bahkan ngomong buat sekedar ngobrol. Tapi itulah justru yang bikin aku ingin bertahan. Aku seperti ditantang untuk meminimalisir efek buruk isu tersebut. Yah..gak ngoyo juga sih. Karena prinsipku, kita emang harus nyoba, tapi please banget jangan too much alias don't try too hard! Nanti bakalan capek. Asikin aja (Ipul's quotes).

Oke, di sini kita main-main soal asumsi versus fakta tentang OJT I (my findings, of course).
OJT I kira-kira mengenai produk di dalam tangki bola ini.

Nuansa Pagi

Nah...di tempat OJT pertama itu, ada kebiasaan unik setiap paginya. Jadi di situ ada "nuansa pagi". Pas denger pertama kali sih bingung juga ya, soalnya yang aku tau, nuansa pagi itu judul acara berita di salah satu TV swasta.

4.5.12

OJT: Let Us Begin..

*Bahasa again, cz this is gonna be emotional..

Packing adalah sesuatu yang kalau bisa, aku ingin sekali hindari. Kenapa? Karena packing identik dengan perpindahan, kepergian, keberangkatan, perpisahan... Seperti yang terjadi pada kami, para siswa BPS M&T Batch II 2011 hari Minggu lalu. Rasanya baru kemarin, kami dipertemukan di RSPP Jakarta setelah sebelumnya digabung dengan BPS divisi lain di PLC Simprug, lalu diberangkatkan ke Cepu untuk mengikuti pelatihan selama 2 bulan. Setelah itu tiba-tiba saja kemarin segalanya menjadi dipercepat.

Setelah singgah di Cirebon seminggu, kami diantar kembali ke PLC Simprug dan diberangkatkan lagi ke tempat OJT masing-masing. Sebagian ada yang dikirim ke Medan, Palembang, Balikpapan, bahkan Papua.

Jadi pada akhirnya ternyata kami harus berpisah di situ. Oleh sesuatu bernama "OJT".

Kronologis:

RSPP mungkin adalah tempat pertama dimana anak-anak M&T dipersatukan. Soalnya pas kelas bahasa Inggris, kami dipisahkan ke dalam 3 kelas yang berbeda sesuai nomor urut absen kami. Aku waktu itu masuk di kelas C karena nomor absenku 66 (buncit ya). Banyak yang aku dapat dari kelas ini. Bukan saja aku yang lebih nyaman dengan bahasa Inggris tulisan, menjadi terbiasa berbicara (walaupun tidak fasih) dengan bahasa ini, tetapi juga kadar ke-anti-sosial-anku berkurang karena aku merasa ada orang-orang yang bisa kuajak bicara di sana. Apalagi guru bahasa Inggrisnya asik: selalu gak hilang ide buat nyiptain game-game yang seru dan bikin kami harus berinteraksi satu sama lainnya. Kelas lain bilang kami kelas autis. Bukan aja karena provider untuk kelas kami yang beda sendiri, tapi juga memang kami akui kalau orang-orang di kelas ini cukup independen. Itulah kenapa aku suka di situ. Sampai rasanya gak mau pisah kelas.

15.3.12

Nowness

Whew it's been months since I've done my last blog post! Actually I've been busy doing my job-training schedule. It's like  the days are just changed from morning to evening and the noon is always skipped.

Without further ado, here are some sketches that I've tried to make to compile my daily routine. And oh, did you know that I've been in Cepu (it's a town in Indonesia) for 4 weeks? There are so much to learn and it feels like my brain is going to burst! (Okay, it's lebay). Well then, sorry for the poor image quality. We've got no scanner here! Begin:

Cepu, a 2 month-length oil and gas intensive course - 50% in progress.

15.1.12

Cikole Story part 2

Day 3

Berbivak. Pertama denger "bahasa" itu aku bengong 5 menit. Apaan tuh berbivak? Ternyata berbivak itu nama lain dari berkemah. Dan bivak itu nama lain dari tenda! Olala..kalo berkemah sih dari SD aku suka, kan aku anak Pramuka sampai SMP (dan berhenti gara-gara selalu jadi "penjuru kiri". You know what I mean. -_-). Tapi tunggu dulu..berbivak di Cikole ini beda loh. Yang jelas kita gak dibikinin tenda atau dimasakkin jadi tinggal tidur aja, tapi semuanya kita bikin sendiri! Luar biasa..
Perjalanan menuju tempat berbivak ditempuh dengan jalan kaki per peleton (aku peleton 3, totalnya ada 3 peleton). Kurang jelas juga di mana tempat bivaknya, tapi pelatihnya bilang sih sekitar 15 KM dari dodik. Awalnya aku mikir, alah kecil..kan barengan jadi gak kan kerasa capek. TAPI.... kan semuanya bawa ransel ijo-berat-susah-diatur itu tuh, aku baru nyeberang dodik aja udah ngos-ngosan dan beneran deh, CAPE banget! Aku mikir apa gara-gara kemarinnya aku abis di-orientasi medan ya? Apa karena aku baru ya? Atau emang aku lemah maksimum ya? Yah..wallohu'alam lah yang pasti saat itu, saat yang lain nyanyi-nyanyi ngusir cape, aku malah dipapah sepanjang jalan. Padahal ransel ijo-berat-susah-diatur itu udah ada yang ngebawain (aku lupa siapa, tapi makasih dari hati yang terdalam, mas!) dan bahkan togel-ku dibawain juga. Malu banget ya Alloh...padahal sama teman-teman se-peleton itu aja aku belum kenal semua tapi udah merepotkan semua (mulai galau).

Dan tau gak apa yang benar-benar mengganggu selama perjalanan itu? Yup. SEPATU. Sering banget aku jatuh kesandung dan berpikir bahwa, "Come on! aku tidak dilahirkan untuk memakai sepatu seperti ini!" (lebay). Karena beneran sih, kaki di dalam sepatu itu jadinya licin banget. Mungkin karena umur sepatunya baru 3 hari kali ya, sementara umur sepatu orang lain udah 13 hari, dan sepatuku itu jarang disemir pula, jadinya si sepatu ini masih gak betah nempel di kakiku. Saking betenya sama sepatu ini nih, aku sempat bilang pelatih pengen ganti sendal jepit! Hahay malu banget kalau inget kejadian ini. Ya daripada ngerepotin terus yang lain? Untungnya, teman kelompokku pada sabar-sabar dan gak nunjukkin kedongkolan mereka gara-gara keleletanku itu. Terima kasih peleton-ku..jasa-jasamu akan kukenang selalu.

Singkat cerita, setelah perjalanan yang melelahkan dan hampir aja aku mau pengsan (ini serius) tiap 5 meteran, sampe juga di tempat kemah. Kontan aku disindirin pelatihnya ampe gak kehitung lah berapa kali. Aku dibilang "ele-ele-an" masa... Sempet bikin down juga tuh, tapi ketika aku mengingat bahwa denda 300 juta bakal jadi bebanku kalau berhenti di sini, akhirnya aku paksain juga. (sampai hari ke-tiga ini, motivasi-ku masih "takut-didenda-tiga-ratus-juta-jadi-jangan-berhenti-dulu").
Tempat kemahnya itu subhanalloh indah banget...dari dulu aku penggemar berat hutan konifer (hutan pinus, cemara, dsb.). Kalau mau tau, Cikole itu daerah yang deketan dengan Gunung Tangkuban Perahu loh.. Nah nyampe sana, kita langsung disuruh nyiapin tenda (bikin sendiri) dan masak buat makan malem. Kebetulan aku se-bivak sama teh D dan R, dan mereka jago bikin tenda. Aku sendiri karena susulan jadi gak tau apa-apa soal cara bikin tenda. Akhirnya aku ditugaskan untuk ME-MA-SAK.

Alat masaknya itu, kompor kecil portable yang cuma bisa dikasih bahan bakar berupa parafin alias lilin atau kayu bakar ukuran mini. Dan koreknya itu loh. Geretan! Sumpah sebenernya aku takut nyalain api di geretan..tapi karena waktu itu gengsi mengakuinya, yaudah aku sok-sokan bisa aja padahal parafinnya gak kebakar-kebakar gitu. Parahnya, pelatih di deket aku ada yang curiga kenapa parafin aku gak nyala-nyala. Terus dia bilang "e kamu takut korek ya?" Mati gue. Hadeh pelatih, aku gak takut korek loh, itu parafin gak nyala-nyala karena aku masih berkutat dengan "bagaimana menyalakan geretan dengan benar tanpa membakar jempol tangan". Beuh...

Fakta menarik dari berbivak ini, saat memasak, hampir semua tukang masak tiap bivak menghasilkan masakan yang sama: nasi kurang mateng karena parafinnya abis di tengah jalan. Hore...aku tidak sendiri! Hehehe. Pokoknya makanan pertama di hari itu (kebetulan sudah sore) adalah nasi kurang mateng campur mie instan. Okelah,,hampir tiap hari sih kita makan nasi kurang mateng. Lauknya itu sangat variatif, bisa sarden, mie instan, abon, mie instan, dan abon (tuh kan variatif?).

Tiap sore jam setengah 6 dan pagi jam setengah 6, kita wajib tiarap di depan bivak. Masalahnya gak semua bivak menghadap pohon! Akhirnya pada waktunya tiarap itu, kita pada rebutan pohon deh. Nah terus setiap malam mulai jam 10-an, ada jaga serambi alias jaga malem bergiliran. Tiap bivak dapet giliran satu jam dan kita dikasih sandi suara dan sandi cahaya untuk berjaga-jaga dari musuh. Sebenernya tiap jam pasti ada pelatih yang mantau bivak kita sih tapi kan tetep aja kita harus jaga serambi sendiri supaya tetap waspada (dari bom). Saking waspadanya, mau tidur kek, mau ngapain kek, kita gak pernah buka sepatu! Udah kayak orang Eropa sono jadinya..hoho

Semua kejadian hari itu bikin aku mikir. Bahwa segala hal yang dilakukan dengan hati dongkol tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa. Oke taro lah bahwa hal yang dilakukan memang sebenernya gak bermanfaat. Tapi minimal, kalau tidak dongkol, ya masih bisa dinikmati sebagai pengganjal waktu lah. Dan satu lagi, sebenci apapun kamu dengan sepatu (tentara)mu, jangan sampai kau telantarkan apalagi lupa disemir. Karena dia akan menggigit kakimu. Ini nyata kawan!
to be continued...

10.1.12

Cikole Story part 1

So.. I decided to make this "Cikole" special edition in Bahasa Indonesia. The reason is just simple, because it'll be much emotional and I don't think I could make it right in English. As a hint, I tell you that I had a military training starting in December 16 until 31, 2011. It's a part of my job training. Well if you don't understand the post, feel free to use the Google Translator toolbar at the right column or you can just stare at the pictures. It'll be more understandable. Let me begin then!

Day 1

Jadi gini ceritanya, kan aku pernah bilang ya kalau aku sudah mulai training kerja di salah satu BUMN di Indonesia. Nah ternyata di antara sekian banyak tahapan training itu, ada wamil-nya! (baca: wajib militer, bahasa halus: kewiraan). Jujur aku sebagai orang yang payah dalam berolahraga dan sebenernya paling males dengan segala hal berbau ospek plus bentak-bentakan, tentu aja mengalami parno yang luar biasa. Tapi kan mau gimana lagi soalnya wajib sih..kalo gak ikutan nanti aku gak bisa lanjut training. hehe.

Langsung aja ke inti ceritanya. Aku sudah pernah bahas tentang seluk-beluk rekrutmen yang cukup ribet bin rempong di sini dan di sini. Intinya, aku ikut kewiraan susulan, jadi pas orang lain udah ikut kewiraan sekitar 10 hari, aku dan 4 orang lainnya malah baru ikutan. Sindrom murid baru.

Hari pertama adalah hari ter-horror dalam kehidupan wamil-ku. Terang aja horror, bayangin pas mau turun dari mobil jemputan eh tiba-tiba ada beberapa orang pake seragam tentara bentak-bentak kita terus nyuruh baris, jalan jongkok, merayap dsb., diiringi SUARA tembakan! Bayangin ya, TEMBAKAN senapan nih! Jujur aku paling benci banget sama segala sesuatu yang bikin kaget. Balon pecah aja aku benci banget apalagi senapan. Tapi karena gak ada pilihan lain, aku manut aja.

Sepanjang jalan merayap dan jalan jongkok yang diiringi tembakan plus pertanyaan-pertanyaan kayak "kalian nyesel? kalian dongkol? Pulang sana!" dan sebagainya, kita terjatuh-jatuh di jalan bebatuan sampe lutut kita bonyok-bonyok. Malem-malem pula. Mata ditutup pula. Weks. Tapi seperti aku bilang tadi, biar dongkol juga gak mungkin kita ngaku. Toh selama wamil itu kita kan ada di genggaman tangan mereka.

Balik lagi ke cerita tadi. Nah pas nyampe ke suatu tempat dengan bau menyan menyengat, tau-tau aja kita disuruh buka penutup mata. Eh jujur ya sebenernya mata aku gak ketutup-ketutup amat, tapi gara-gara sedikit acting, pelatihnya gak tau kalau gw ngintip. wehehe. Nah pas penutup mata dibuka, meski ngintip aku tetep kan gak tau itu tempat apa. Pertamanya sih kirain kuburan. Ternyata eh ternyata, di depan kita tau2 ada kolam dengan air ijo banget dan suara kodok bersahutan. Sepertinya ada ratusan kodok di sana. Kita jadi was-was. Apakah kita akan disuruh nyebur??

Tapi taunya gak gitu juga. Kita cuma disuruh ngambil "nama suci" yang letaknya di tengah-tengah kolam dan apapun yang terjadi, kita gak boleh kena basah. Ribet kan! Akhirnya, karena aku dan V lagi pada pake jaket tebel, kepaksa jaket kita dikorbanin dan dipake buat jaring untuk ngambil si "nama suci" itu dari kresek di tengah kolam. Buset dah jaket aku jadi korban. (udah mulai dongkol). Nah di situ aku kebagian nama suci "kobelco". Waktu itu sih gak tau artinya apaan, tapi belakangan aku baru tahu kalau Kobelco itu salah satu merek kendaraan berat. Gak cocok banget ama perawakan gue. Wkwk

Oke jadi selanjutnya setelah pengambilan nama suci itu, aku sama 4 orang susulan lainnya (V, D, mas F n I anak keuangan - nama disamarkan), digiring ke sebuah ruang kelas. Mata kita waktu itu ditutup jadi pas buka mata, surprise banget ternyata kita udah dikelilingi sama senior-senior (dibilang senior karena mereka udah wamil duluan, sampe 10 hari) dan dikasih yell-yell gitu. Jadi ikutan semangat deh.

Terus setelah mereka ke luar kelas, kita digiring ke sebuah beranda. Di situ udah ada ransel berisi macem-macem barang seperti baju olahraga, alat mandi, gelas+piring-sendok, handuk, dan dua setel baju hijau yang aku gak ngerti gimana cara pakenya. Tapi tau-tau langsung disuruh pake baju itu dengan segala embel-embelnya. Dan tau gak, aku dikasih sepatu militer dengan ukuran 37! (ukuran sepatuku 36). Kedengarannya simple tapi trust me deh, sepatu itu luar biasa berat dan keras, maklum terbuat dari kulit. Dan kegedeannya itu loh. Cape deh.. Ohiya ternyata kita berlima gak dikasih kamar atau barak, kita malah dikasih tenda kecil. Putri dan putra dipisah. Tidurnya di luar dan lengkap pake segala macem atribut baju ijo itu. Luar biasa dah pokoknya.

Singkat cerita, kita tidur di bivak tsb. Malam berlalu dengan tenang, dengan sepatu kebesaranku (literally kebesaran).

Day 2

Jam 4 subuh keesokan harinya, tiba-tiba aja ada suara menggelegar. Suara BOM! Sama senapan bersahutan. Sekejap aku langsung lupa ketakutanku sama senapan dan bom sehingga akhirnya langsung aja kami ke luar bivak dan tiarap di deket pohon terdekat. Gak tau deh maksudnya apaan cuma dari semalem emang udah diperingatkan bahwa kalo denger suara bom tuh kita harus cepet-cepet tiarap di deket pohon terdekat. Satu orang satu pohon lagi. Repot asli. Beberapa menit setelah itu langsung aja kita dikumpulin di lapangan, cek kelengkapan. Pas ketahuan ada yang lupa pake topi lah, apa lah, langsung dihukum push up sama jalan jongkok. Ngeriiiii.

Siangnya saat yang lain belajar kompas, kita berlima ikutan orientasi medan. Di orientasi ini kita dikasih pelatih sebagai komandan yang bawa bendera merah, terus dia kibar-kibarin benderanya dengan isyarat tertentu. Kalau benderanya diarahin ke atas, kita lari. Kalo ke bawah, kita jalan jongkok. Kalo ke bawah banget? Kita merayap. Mantabs dah. Orientasinya berlangsung di daerah sekitar dodik tempat kami latihan. Deket sih cuma medannya bener-bener yang berbatu-batu, ada lumpur, sungai, rumput alang-alang, dan benda-benda hutan lainnya.

Sepanjang jalan aku beneran kecapekan, udah gitu semalem pas baru dateng aku kan jatoh tuh, lutut aku dua-duanya sakit. Masya Allah dah. Lebam biru-biru banyak banget. Jadinya pas di jalan itu aku dituntun mas F, gantian sama V. Si I lututnya juga sakit. Belakangan aku baru tau kalo lutut mas F malah sobek! Lebih parah dari aku dan harus dijahit. Padahal dia masih bisa jalan dan bantuin aku. Aku cuma lebam doank udah lelet-manja-najis gini. Parah kan! Gara-gara itu aku dimarahin pelatih Muji. Masa dia bilang, "kamu harus lebih serius ya!".  Meh! Ini juga serius pelatih, cuma akunya aja masih lemah. Hohoho.


*Selanjutnya bersambung dulu ya, mau mengingat-ngingat dulu jalan ceritanya. Maklum sekarang tiap hari pematerian training padet banget, curi-curi waktunya susah. Foto-fotonya akan terus di-update, lagi di-edit dulu. Hehe.

Tell me your opinions. It's an exciting moment in my life, btw.


To be continued...

15.7.11

Sekilas BPS Pertamina 2011

Sebenarnya ini bukan sesuatu yang besar, tapi kurasa aku harus membaginya di sini karena semua orang begitu penasaran tentang proses menjadi peserta BPS, Bimbingan Profesi Sarjana, di Pertamina, salah satu BUMN di Indonesia, sehingga seringkali browsing untuk mendapat sebanyakmungkin info. Well, aku sempat mengikuti proses ini dari awal hingga akhir. Dan berikut adalah timeline serta cerita singkat mengenai rangkaian seleksi tahun ini (2011):



1
22 Januari 2011
Seleksi administrasi
Biasanya, seseorang harus mendaftar secara online di website resmi pertamina http://www.pertamina.co.id pada tanggal-tanggal tertentu yang diumumkan oleh perusahaan tersebut. Jadi, pantau terus web-nya supaya update. Atau kalau kamu kaskusers, sepertinya kamu bisa stay informed karena banyak sekali cerita seputar BPS di sana. Kalau aku, aku melamar saat ada Job Fair dari JobsDB yang waktu itu diadakan di Sasana Budaya Ganesha Bandung.

2
29 Maret 2011
Tes psikologi
Diadakan per tempat kita melamar secara on line. Karena aku melamar di Bandung, akupun mendapat lokasi tes psikologi di Bandung, tepatnya di gedung BPAP Fakultas Psikologi Unpad. Harus kuberitau bahwa tes psikologi (as you know) itu benar-benar LAMA. Tes-nya gampang, tapi soalnya super banyak sehingga kita harus sabar dalam menjawab dengan pikiran jernih dan anti-capek.

3
20 April 2011
Wawancara User/HRD
Aku kebagian di kantor pemasaran wilayah Jawa bagian Barat, di Kramat Jakarta. Isi singkat pertanyaan wawancara itu sederhana:
a. memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris
b. menceritakan pengalaman kerja dan organisasi (trust me, mereka benar-benar 'menggali' soal ini)
c. menguji komitmen kita, apakah kita benar-benar ingin bekerja di sana dan siap dengan segala konsekuensi-nya (ditempatkan di seluruh Indonesia, dsb.)
d. menanyakan tujuan hidup dan mimpi kita (klise, tapi ini adalah salah satu saat paling menentukan)

4
25 April 2011
Medical Check Up
Bertempat di Lab Biotest di Naripan Bandung, tes itu dilakukan dari pagi sampai sore. Pagi sampai siang, semua tes (you name it) dilakukan dari tes USG, EKG, darah, gigi, mata, paru-paru, rontgen, telinga, tes fisik, air seni, bahkan tinja. Setelah itu diadakan tes kebugaran dengan cara lari 4 keliling lapangan Gasibu. Gasibu itu, gede banget. Harus kukasihtau ya, kita lari gak dibalapin, yang penting kecepatan kita stabil. Bahkan aku finish di urutan ketiga (terakhir) dan setelah itu harus diulang dengan tes treadmill. Saat itu aku benar-benar CAPEK dan aku adalah orang yang terakhir dipulangkan. So I feel unimaginingly lucky to pass this phase.

5
10 Mei 2011
Wawancara Top Level Management
Wawancara terakhir ini dilakukan di kantor pusat Pertamina Jakarta, yang deket Monas itu. Waktu itu aku diwawancara oleh senior manager divisi perkapalan dan senior manager HRD. Dan ini adalah wawancara tersingkat  selama status job seeker-ku. Yup. Cuma sepuluh menit. Temanku bahkan cuma lima menit. Mereka cuma bertanya tentang komitmen kita dan di situ kita harus benar-benar paham kenapa kita ingin bekerja di situ dan apa modal kita untuk mencapainya. Be Your Self, don't be a liar coz they WILL know.
My first visitor card! Yayy.
6
3 Juli 2011
Final Announcement
Setiap fase rekrutmen diumumkan hasilnya melalui email dan SMS. Jadi stay tune untuk selalu memeriksa email dan inbox ponselmu walaupun saat itu hari libur. Jangan lupa periksa spam juga karena beberapa orang mendapat pemberitauan itu di spam.
***
Hitung saja, berapa lama proses seleksi ini? Kira-kira enam bulan lebih. Tapi semua perjuangan pasti ada hikmahnya. Kalau hari ini belum lolos, jika masih berminat, coba saja terus karena di proses seleksi ini, beberapa rekanku malah pernah mencoba lebih dari sekali. Last words from me,Good Luck for the next season!