Showing posts with label Random Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Random Thoughts. Show all posts

12.1.24

Being Thirty For A While

“How old are you?”

“Thirty’s”

“How long have you been thirty’s?”

“A while..”

(Bella to Edward on Twilight, 2008).

Pfft of course I modified it because I am actually double of Edward’s legal age by now.

…

I’ve been meaning to rant a lot about this since a long time ago - that time of the moment of truth happened when I was reminded that I’m no longer that youngest gurl in class. In my past, I was known for being the youngest of them all. Or second youngest. That’s why the feeling of being the oldest is quite new to me. And I was like, oh this is how it feels.

So several months ago, I noticed on the Instagram that a book fair would be held publicly somewhere in Bandung. And they were opened for volunteers. One of the position available was social media contributors. Well I am a social media contributor in a non profit community so I was thinking that maybe the job was fit for me. But my situation was that I have two toddlers with me and I have no ability to be mobile. So then I asked the contact person about my situation and whether if it was okay if I join the volunteer team. I’ve got no reply so I was understand that it was a no. I moved on then.

Several weeks later, our community had an opportunity to give a talk on the main stage on that book fair. Since I was on the social media team, I had to present to take photos and videos to be reported on our Instagram. I was in charge to contact the officials of the book fair, too, and after the event was ended, I thank the officials and later I realized that she was the contact person I mentioned earlier. She was the first to notice and guess what did she said to me?

“Oh, hi, Ma’am. I remember you were applying to be social media volunteers on this event. So sorry for not replying, we were hectic at the moment and as you can see here, the volunteers are mostly college students.”

Boom! I looked around and noticed that was true lol. Gosh I giggled noticing how silly I was. I also had this sudden urge to runaway to check my IDs to see what year my birthday again lol. Really I didn’t see it coming. I went home with some overthinking feeling lingering in my head. Silly me.

Andddd that was the moment I realized that on your 30s, you didn’t really have a chance to start fresh. Like, people hope you are half way there. In everything. A successful business owner with zillions in your bank account. A manager assistant in a big corporate career ladder. Mom of preteens or elementary schoolers. Start a franchise. Finish a master degree or two - even start to pursue PhD. Purchased another property. Had at least one designer bag. The list could be going on and on.

(At this point why I am still surprised that people do mind some timeline for other people).

Lucky for me I have a circle that happened to be the same age and that quite keep me sane. Like when we found a job recruitment flyer and it was stated that applicants should not be older than 25. God it was laughable but sad at the same time. Especially for a mom that have a gap year after her career break to look after the babies. Do we even really have a chance to “come back”?

An old friend earlier today asked me about my biggest dream. Ten years ago I probably list a bunch of places I want to go to, subjects I want to learn, shoes I want to purchase, and even getting a degree - which was I tried and failed once. But today when I contemplate the answers, I ended up awake at this hour. What is actually my dream? Is it okay to have a dream, while you have responsibilities that occupy your top priorities list now?  Is it okay to be selfish? Or what is selfish means again? Because the answers may vary.

Then I also remembered that my late mother had her first course as MUA in her 38 while had us three children. She pursued her career dream just in time because after many years of networking, she had a lot of clients after that. And also to note that, my father was very supportive. We had this ups and downs when we were kids but our parents didn’t give up that easy.

Well, so we came of that kind family. 

28.6.22

(Akhirnya) Ngobrolin Resign

Sebenarnya, saya tuh paling malas kalau harus membicarakan resign. Karena menjadi perempuan karier adalah bagian dari masa lalu saya yang sering ketika disinggung lagi, saya jadi pengen balik ke sana (he-he). Ya gimana. Media sosial menampilkan berbagai sisi berkilauan nan menggiurkan dari teman-teman saya yang masih bertahan di sana. Yang lagi-lagi, bikin saya membayangkan andai saya masih di sana, saya akan jadi seperti apa?

Apakah masih jadi ibu-ibu yang (katanya) passionate dengan karier? Atau ibu-ibu yang menutup diri dari pergaulan kantor karena memang seperti itulah saya? Apakah saya juga masih misuh-misuh memikirkan kompetisi politik kantor yang selalu tidak mampu saya tembus? Apakah anak-anak saya senang dan bahagia bergelimpangan fasilitas mevvah (yang saat ini sederhana namun cukup)? Apakah saya tidak perlu khawatir akan biaya sekolah anak-anak (biar satu circle dengan anak sultan) di masa depan? Apakah anak-anak saya tumbuh baik dalam asuhan nenek & kakeknya? Dan, apakah suami saya ridho?

Apakah Alloh ridho?



Saya tergelitik membahas ini karena memang ada beberapa teman yang bertanya kepada saya, seperti apa rasanya resign. Hanya satu dari tujuh orang itu, yang benar-benar resign pada akhirnya. Jadi saya sangsi, apakah saya benar-benar bisa menjawab dengan baik? Ha-ha. Atau, apakah saya terlihat begitu tidak meyakinkan, sehingga tidak bisa dijadikan contoh penyintas resign? Ya gimana. Saya mah pragmatis, euy. Makanya, disclaimer nih: anda mungkin tidak akan mendapatkan sesuatu yang wow dari tulisan ini. Termasuk gambaran berlebihan tentang bahagianya menjadi IRT, betapa damainya hidup di rumah saja, atau betapa berbunga-bunganya waktu saya bersama keluarga.


Aku ‘gak gitu, Adik-adik.


31.10.21

Sahabat Sebelas Tahun

Sahabat. Konon hubungan dengan mereka bisa jadi lebih dekat dibanding saudara atau keluarga sendiri. Kita terhubung dengan mereka, bukan karena memang harus atau telanjur (seperti pertalian darah, pernikahan, agama atau organisasi, mungkin?). Kita tidak tiba-tiba melihat orang yang berkilauan dan populer lalu memutuskan menjadi temannya - saya biasanya tidak begini karena mereka membuat saya gugup. Tetapi kejadiannya lebih seperti, like dissolves like. Sesuatu yang bermiripan, entah kenapa sering tarik-menarik begitu saja. Saya menemukan beberapa orang seperti ini di setiap jenjang kehidupan.

Yang mengecewakan, unsur ketertarikan ini kadang tidak bertahan lama. Jika di SMA, kita terhubung oleh kesukaan akan musik-musik Hip Hop atau manga yang dibaca, setelah dewasa dan jarang bersua, hal ini luntur seiring waktu. Padahal waktu itu rasanya kita dekat sekali. Tidak mungkin "bercerai". Kita cerita apa saja. Bahkan rahasia tergelap sekalipun. Menyebalkan jika harus berpisah dengan orang seperti ini, bukan? Suatu hari, saya mencoba berintrospeksi dan mengambil inisiatif. Kita tak boleh begini, pikir saya saat itu. Mungkin saya yang abai. Hingga saya memberanikan diri berkunjung dan bertanya pada salah satunya. Ia berkata,

"Semua orang memang begitu, bukan? Usia tiga puluhan tidak lagi membicarakan semuanya. Tidak juga bertemu semaunya. Masa remaja sudah lewat."

Sejujurnya, saya tidak ingin mendengar jawaban seperti itu. Terlalu menyedihkan untuk dihadapi hati saya yang rapuh. Seperti kenyataan yang terlalu pahit untuk pangkal lidah saya. Hingga saya berusaha menelannya bulat-bulat agar ia melompati bagian itu. 


Lalu saya sadar bahwa saya telah melakukan ini kepada blog saya.

13.5.19

Overheard Womanhood

“Teteh sekarang masih kerja?”
“Oh, enggak. Sekarang ikut suami.”
“Tuh, ‘kan. Ujung-ujungnya cewek mah di dapur.”
“Iya, harusnya ‘gak usah mahal-mahal sekolahin ya? (Senyum sinis)”
“He-he.. (Senyum salting)”.

2019 gitu lho. Tadinya saya tidak mau (dan sesungguhnya tidak perlu) emosi mendengar hal semacam ini dilontarkan. Tapi ternyata ini cukup merusak mood. Jadi daripada hal ini menggerogoti kehidupan, sebaiknya saya meracau saja di sini.

Illustration by me.

Saya memikirkan banyak sekali versi jawaban jika skenario itu muncul langsung di hadapan saya. Sayangnya, itu terjadi beberapa kali di depan ibu. Which is, rasanya lebih menyedihkan daripada dialami dan harus dijawab sendiri.

Versi jawaban pertama, saya akan bilang kalau, “Kerja ‘kan tidak harus di luar rumah.”

(Tapi ini denial, karena saya tidaklah se-“bekerja” itu sekarang).

28.3.19

Norak, Oh, Norak

Tersentil tulisannya Tere Liye di FB beberapa hari lalu, saya jadi ikut-ikutan ingin menyoal tentang drama per-norak-an ini. Ya. Beberapa hari lalu telah dilangsungkan uji coba MRT (Ratangga) di Jakarta. Kabarnya, sampai 31 Maret ini, dia masih gratis. Saya? Saya mah anak Bekasi. Pan-kapan aja nyobanya. Membayangkan penuh sesaknya, belum lagi drama rebutan kursinya, saja sudah bikin ogah. Tidak. Saya kurang suka konflik-konflik di tempat umum seperti itu.

Nah, balik lagi ke soal tadi. Karena masih gratis, maka berduyun-duyunlah masyarakat jabodetabek (dan luar kota) yang penasaran. Mereka datang untuk ikut mencoba “wahana” yang satu ini. Siapa saja masyarakat ini? Banyak! Tidak hanya milenial kelas pekerja saja. Atau influencer yang ingin eksis. Atau sosialita yang curi-curi kesempatan nampang dengan pejabat yang datangnya hanya sekali itu. Tetapi juga anak-anak dan emak-emak. Yang, anggaplah, belum pernah naik MRT sama sekali. Norak, katanya.

Illustration by me.

(Hmm sebenarnya sebagian besar kita juga belum pernah, ‘kan? Iya memang ada di Malaysia. Atau Singapura. Tapi yang pernah ke luar negeri pun banyak yang mengandalkan Grab ke mana-mana. Jadi tidak tahu tentang MRT).

Kemudian beredarlah foto-foto anak dan emak dan bapak yang katanya norak ini. Norak, karena menganggap arena MRT seperti Taman Kota yang bisa dibuat tempat piknik-piknik. Atau buat gelantungan seperti di kandang Bonbin. Norak, karena mereka membuang sampah tidak pada tempatnya. Juga norak-norak lainnya yang aduhai, sesungguhnya sangat tidak bisa ditolerir.

1.2.19

Berhala dan Idola

Idol, dari arti katanya saja, dalam bahasa Inggris, salah satunya adalah: berhala. BERHALA, lho.

i·dol

Hasil kamus untuk idol

/ˈīdl/
noun
  1. an image or representation of a god used as an object of worship.
    sinonim:icon, god, image, likeness, fetish, totem, statue, figure, figurine, doll, carving; Lainnya

    • a person or thing that is greatly admired, loved, or revered.
      "movie idol Robert Redford"

      sinonim:hero, heroine, star, superstar, icon, celebrity, celebutante; Lainnya


noun
  1. 1. idola
  2. 2. berhala
(Definisi disalin mentah dari Google).

Makanya saya setuju ketika kita punya idola, di saat cara kita mengidolakannya itu sudah kelewat batas, maka yang terjadi adalah, kita seperti mem-berhala-kan orang yang diidolakan tersebut. Makanya lagi, entah sejak kapan, saya mulai berhenti mengidolakan sesuatu - atau seseorang. Bagi yang mengikuti blog ini agak lama, pasti tahu betapa saya sangat mengidolakan beberapa musisi, penulis, bahkan komika. 

Ketika dirunut bagaimana semua berawal, tentu karena lingkungan dan pergaulan.

Ilustrasi asli oleh @tweedledew . 
Musisi, karena saya tumbuh sebagai remaja penggemar musik. Beranjak SMP, saya mulai mendengarkan band lokal. Sederhananya hanya karena teman-teman saya mendengarkan itu. Rasanya tidak gaul kalau tidak suka musik. Begitu pun sampai saya kerja. Musik dan nyanyi bagaikan pelipur lara dan penat. Apalagi ketika sudah mengenal asyiknya berkaraoke. Memperbarui daftar lagu yang bisa dibanggakan dengan suara seadanya di karaoke adalah mutlak perlu. Kalau tidak, saya tidak bisa menikmati apa pun, bukan?

10.11.18

Hutang

Sering saya berpikir, hutang saya pasti banyak sekali. Saya hidup sudah di ambang tiga puluhan. Pasti selama itu, teringat atau tidak, dan sengaja atau tidak, pernah saya berhutang pada orang lain. Yang kecil-kecil seperti jajan. Atau bisa jadi yang besar-besar seperti, well, hutang budi. (Yang ke dua ini hitung-hitungannya lebih susah).

Kebiasaan kita yang suka gampang banget bilang, “eh tolong bayarin dulu, 'gak ada uang kecil”. Kemudian besokannya lupa. Itu adalah kebiasaan yang tidak elok. Mengapa? Sedikit demi sedikit, lama-lama membukit. Kata orang sih begitu. Demikian juga hutang yang cuma “latte factor”. Saya merasakan ini banyak terjadi pas saya malah sudah bekerja. Waktu sekolah dan kuliah sepertinya tidak (kalau tidak lupa; dan kecuali hutang pulsa darurat - yang biasanya keesokan harinya saya bayar langsung). Karena zaman kuliah, semua terawasi oleh ibu.

Hasil latihan gambar dengan pensil warna. Gambar aslinya kecil sehingga agak kabur.
Setelah dewasa, semua tak terhindarkan. Ya tidak apa sih, selama ingat dan selama berniat bayar. Selama ada umur juga. Cuma yaa... suka lupa tadi karena sedikit-sedikit yang terhutang. Makanya ketika resign kemarin, walaupun kesannya basa-basi (ha-ha), saya bilang di email perpisahannya, “kalau ada hutang yang belum tertunaikan, mohon diikhlaskan atau diingatkan supaya bisa terbayarkan”. Entah hutang kerjaan sih ya! Yang besar-besar sudah selesai. Yang kecil-kecil? Saya lupa. Sekecil, “mbak tolong kerjakan itu”. Terus karena tidak terlalu penting maka saya iya-iya saja.

Wah. Banyak juga ya.

6.11.18

Screen Time, Cringe Time

Beberapa bulan ini (yak, bulan!) rasanya saya sudah keranjingan gawai secara berlebihan. Ini tidak ditandai dengan ketergantungan seperti, tidak bisa berpisah dengan gawai barang 5 menit saja, atau semacamnya. Ini lebih buruk. Sampai di titik dimana saya merasa tidak punya kegiatan menarik lain selain mainan gawai! Walaupun saya tidak main gawai untuk swafoto (serius, saya ataupun suami sangat jarang swafoto, kami memang tidak sebangga dan senarsis itu dengan wajah kami, ha-ha) atau mainan daring, tetap saja, tidak baik. Makanya kemudian saya berpikir bahwa saya kudu-wajib-harus membatasi waktu menatap layar seminimal mungkin.

Untuk mulai membatasi screen time di gadget, pertama-tama perlu diselidiki dulu, sebenarnya apa sih, yang selalu saya buka di sana? Se-fomo (fear of missing out) apa sih saya sehingga harus selalu membuka gadget? Mari kita telaah.

Dibuat berdasarkan tokoh asli karya Shauncy Tan.

Yang Selalu Dibuka di Gawai

Pertama jelas Instagram. Saya berasa kuper banget kalau sehariii saja gak buka IG. Memang, IG adalah platform sosmed yang paling cocok buat saya, karena foto dan video bisa diunggah dalam satu postingan, dengan caption yang bisa sepanjang rel kereta api (ha-ha). Jujur ini bikin malas blogging sih.

30.10.18

Pesawat

Pesawat (terbang) memberikan banyak sekali kenangan buat saya. Saya pernah jadi pengunjung bandara reguler selama hampir tujuh tahun, dan tentu semuanya sebagai penumpang pesawat tertentu. Menjadi petugas antar jemput tamu kantor hanya sesekali saja. Selainnya, dinas luar.

Saya tidak pernah pilih-pilih maskapai. Yah, ada sih yang saya pilih hanya jika tidak ada pilihan lain. Entah reputasi delay-nya, entah pertimbangan harga tiketnya. Yang jelas selebihnya buat saya semua pesawat sama saja.



Namun saya selalu sedih setiap berada di bandara. Rasanya sepi walapun di keramaian. Tapi senang ketika sudah berasa di dalam pesawat, karena tiba di tempat tujuan hanya kedipan mata saja. Secara harfiah seperti itu karena saya lebih banyak ketiduran di dalam pesawat. Hihi. Dan senang yang ke dua, adalah karena do’a orang yang sedang safar (bepergian) itu mustajab. Maka saya manfaatkan waktu terjaga saya untuk berdo’a macam-macam. Keselamatan, pasti. Jodoh, ya waktu belum menikah. Setelah menikah, do’a-nya lain lagi. Waktu itu, minta disegerakan dan dikuatkan untuk tidak LDR lagi. Kesehatan keluarga, juga. Dan lain-lain, sesuai keperluan. Namun yang paling utama, adalah do’a agar husnul khotimah.

Saya tidak pernah tahu apakah saya akan selamat atau tidak selama berada di dalam pesawat ini. Ibaratnya sebuah ruang tertutup. Terkatung di langit. Anda mau kabur kalau ada apa-apa pun, ke mana? Anda tidak bisa berharap pada apapun di sana. Semua protokol keselamatan sesuai arahan flight attendant saya kerjakan, dan lembar tata cara evakuasi sering saya baca. Penguat hati saya, salah satunya adalah bahwa secara statistik, orang lebih mungkin celaka pada perjalanan darat seperti di mobil atau sepeda motor daripada di pesawat. Namun walaupun begitu, memang kecelakaan pesawat biasanya fatal. Setelah itu, hanya pasrah. Maka tidak ada yang bisa diharapkan kecuali pertolongan-Nya. Ridho-Nya. Jika saya tidak selamat di sini, yang saya do’akan hanya agar saya tidak meninggal dalam keadaan tidak ingat Dia.

9.8.18

Mengaji (Di Dunia Nyata)

Adab dulu, baru ilmu.
Kalimat ini sedang sering terngiang di telinga kita baru-baru ini. Ketika semakin banyak orang yang hijrah (alhamdulillah!) namun dampak hijrahnya ini berbeda-beda satu dan yang lainnya. Yang hijrah kemudian mengajak orang lain, banyak! Yang hijrah kemudian meneliti dosa orang lain, juga banyak! Bahkan dosa seorang ustadz yang bukan gurunya seperti yang ramai diperbincangkan kemarin. Tidak segan kita menguliti orang yang berbeda dengan kita tanpa ampun. Padahal edukasi tentang toleransi sudah diajarkan sejak SD. Budaya "main hakim sendiri" yang biasa disandingkan untuk orang-orang pelaku pengeroyokan saat ini sudah bergeser dari dunia nyata ke dunia maya: netizen. Kedoknya sama: hijrah. Bedanya, pengeroyokan di dunia nyata bisa bikin mati secara fisik. Kepada pencopet, kepada yang disangka pencopet, dan sejenisnya. Sedangkan di dunia maya, bikin mati secara psikis. Masa sih, hijrah malah membuat orang jadi hakim instan?

Practicing Granny Pictures. Color pencil on plain paper by me.

Amit-amit, yak.

Tapi ini 'kan menyampaikan kebenaran! Kilahnya. Ya anda sendiri, menyampaikan kebenaran dengan cara melukai perasaan orang, bahkan cenderung merundung (bully), menurut anda itu sudah benar? Eh tapi dialog ini 'gak beneran terjadi kok. Hasil menyimak juga. Hasil menghakimi juga. Hakim-ception. Hah!

8.8.18

It's Not A Restart Even If You Thought So

When I first announce my resignation, people were like,

"Oh, I'm sorry to hear that", - yeah, you must.
"Is this a husband's order?", - enough to that. You don't know him.
"Why don't you be grateful? Your resignation means you have no gratitude," - actually, resignation is a form of my gratitude over my situation at the moment. And as to 'anything good for one person is not always good for another person' so call me a snob, but I didn't buy this.
"Be patient, money is not everything", - this kind of an insult.

And among those sorry comments, I hear one good support,
"Good decision! Insya Alloh you won't regret". (And mostly this came from the "husbands" employee - yeah, in my former workplace there's a lot LDR husbands located far from their spouse) - many thanks!

Menjadi salah satu panitia acara CIP pada bulan-bulan terakhir bekerja di Palembang.

The worst comment?
"You'll probably restart everything." - silence. This needs a long answer. As in this post.

23.11.17

Those Who Can't Do, Teach (?)

WRONG. Totally wrong. Here's why.

I must say, having a teaching experience is always something else for me. Considering my forever-felt-anxiety strikes every time I take courage to raise my hand, volunteering myself to speak or just having people recognize me, like "hey, I'm exist!" (kind of), well it was just something. And maybe because I'm getting used to this, I now have a good time and starting to enjoy.

Salah satu pemateri di Training for Trainers pra pendidikan BPS; tinta di atas kertas biasa. Original picture by me.
Karena beda loh, maju ke depan, present something, dengan mengajar. Hmm ada persamaannya siih. Misalnya, sama-sama siap pasang badan dihakimi, sama-sama ada ekspektasi dari penontonnya, juga sama-sama butuh persiapan hehe. Kalau ditanya "susah mana", hmm saya pribadi sih menganggap "ngajar" itu lebih susah.

Gini, lho. Ketika presentasi - taro lah, memaparkan topik tertentu pada saat rapat kerja, kita tuh sudah tahu kalau audiens itu tahu apa yang kita paparkan. Maksudnya gini, tidak ada orang yang datang ke sebuah rapat tanpa tahu minimal judul dan garis besar topik rapatnya. Maka tugas si presenter akan lebih mudah dalam mengarahkan dan menyamakan persepsi dengan audiens. Istilahnya tuh kadang mereka datang ke rapat hanya untuk re-konfirmasi atau menanyakan hal-hal yang kurang jelas saja. Apalagi kalau audiens-nya bos-bos, bisa-bisa kamu presentasi hanya untuk dihakimi hehe. Mereka expect kamu tahu dan bisa jawab semua re-konfirmasi yang mereka ajukan. Itu saja!

3.6.17

Almost Ravenna

Ada yang pernah baca "titik"? Ya, sebuah tulisan semi asal-asalan yang saya buat dua bulan lalu, yang agak-agak semi curhat juga mengingat itu khas banget omongan mbak-mbak twenty something yang sok-sokan kuat padahal galau (apaseh), yang sebenernya saya udah lama banget pengen bahas dan isinya lebih luas dari yang kamu bayangin. That's right. Tentang sebuah kegagalan. Tepatnya, pembenaran terhadap kegagalan. Gak deng, saya gak seneng dengan kata "gagal". Saya bilang, sebuah ketentuan-yang-gak-persis-harapan-tapi-paling-baik-menurutNya-namun-belum-kita-mengerti-artinya. Such a phrase, ryt!

Tentang LPDP.
Selfie. That eerie portrait I drew to capture my feeling that day lol. Illustration by me. Watercolor and Ink on Regular Paper.

Ya gua pernah ikutan LPDP lohh btw. Dan misalkan elo search "LPDP" di Google pun, akan ke luar banyak bacaan, banyak yang bahas, baik yang berhasil maupun yang belum. IDK, perhaps LPDP is popular among bloggers? So walaupun saya tahu di luar sana banyaaaakk banget yang bahas ini, saya tetep akan bahas karena saya blogger, dan saya pernah ngomong kemarenan:
"That's right, successful or not, I'll be still own something to write on my blog".
Dan bener aja! That "not" was happened.

Rasanya sedih banget at the moment. Karena saya kayak udah merencanakan ini sejak lamaaaa banget. Sejak penghujung 2015 kali ya hehe. Butuh berbulan-bulan untuk saya berhenti menapakuri hal tersebut. What's wrong about me? Why did I fail? Something like that. I must say, something that a snobbish would say and I've said them a lot. Bukan gak terima sih, cuman kayak, self-esteem saya tuh pernah jatoh banget gara-gara ini. Well, kini gue nyesel sih udah mikir begituan. Gue lupaaa banget ada hal-hal kayak gue bilang di atas, hal-hal yang gak bisa kita kontrol seenak jidat, yakni ada ketentuan-yang-gak-persis-harapan-tapi-paling-baik-menurutNya-namun-belum-kita-mengerti-artinya. That Higher power. Ini salah satunya.

Disclaimer: buat temen-temen yang tersasar ke blog ini karena pengen tahu soal LPDP secara detail, my apologize, mendingan skip deh, karena saya gak akan cerita "how to" dan semacamnya. You know the result.

9.5.17

01.04.17 Urban Sketching Report

At first it's quite a long tough thought to report this event (because it was happened more than a month ago lol), but then I decide to challenge myself to recall the memory because yeah, I LOVE THIS EVENT SO VERY MUCH - I think I can remember a lot of detail.

So let's begin with how I discover this event.

I've been following a lot of artsy Instagram accounts lately. If you look closely to my following list on my Ig (self-endorse detected lol) you can find them easily. And I don't follow only one kind of arts style, I follow a lot of them from comics to doodle, from fashion to children illustration, etc. and today I found out that urban sketching is also a thing! I was into architectural kind of drawing (did I tell you that I once wanted to be an architect? Too bad, I was really bad at mathematics and similar engineering-starter-pack stuff lol) for so long only I never knew that we can actually draw ones without: ruler!

Lol.

To be honest ruler and eraser are not my favorite drawing tools.

Long story short, I found that event on Indonesia Sketcher's instagram and at first I didn't interested because it was in Jakarta - too far from my place. Luckily, my boss asked me to attend a business meeting in Bogor two days before that event so I finally could join (yeayy!).

Dari sini gue pake Bahasa Indonesia ajalah lagi pusing kebanyakan kerja (pfft). Btw ini bakalan panjangg banget!

First time urban sketching at Pasar Palmerah.

18.3.17

Ketika Semangat Berliterasi Pergi - dan Kembali

Ada dua alasan utama mengapa kita pada umumnya mengenal lalu mencintai dia. Satu, KMGP - Ketika Mas Gagah Pergi; dan dua, Annida. Kebanyakan orang memilih yang pertama daripada yang ke dua. Tetapi yang ke dua tidak bisa terlepas dari yang pertama karena genre baru (baru, pada waktu itu) yang dilahirkannya muncul subur pada yang ke dua. Sementara saya, waktu yang pertama muncul saya mungkin masih SD. Dunia saya masih sangat sempit sesempit majalah Bobo dan Donald hehe. Makanya, ketika saya SMP (sekitar 2002), saya pernah les bahasa Inggris dimana sang pemilik mempunyai sebuah perpustakaan kecil yang sering saya sambangi - dengan koleksi buku yang saya belum pernah temukan sebelumnya bernama "fiksi Islami"; maka di situlah akhirnya saya diperkenalkan dengan yang ke dua. Ya. Berkat alasan tersebut saya jadi jatuh cinta dengan beliau: Helvy Tiana Rosa.

HTR as seen on IG, as drawn by me.
Membicarakan Bunda Helvy, sebagaimana beliau biasa disapa oleh penggemarnya, memang selalu bikin saya terharu dan excited sendiri. Bagaimana tidak, bisa dibilang, kesukaan saya menulis, walaupun tidak benar-benar berawal darinya akan tetapi banyak sekali dipengaruhi oleh beliau. Ah, sebenarnya Annida secara umum sih. Tapi sebagai salah satu pendiri Annida (dan FLP), bagaimana kamu bisa tidak kagum dengan beliau yang tetap teguh menulis sambil berdakwah lewat karya-karyanya yang demikian indah nan menggugah?

Ketika SMP saya menemukan banyak majalah Annida edisi lama di tempat les tersebut - Oxford Course namanya, saya seringkali meminjam majalah tersebut ke rumah. Tidak jarang juga saya bawa ke sekolah dan ditunjukkan ke teman saya yang juga senang membaca - sebut saja Risma. Sampe hapal waktu itu, siapa saja yang sering nulis di situ dan cerpennya seperti apa. Biasanya setelahnya kita akan membahas cerpen-cerpen di dalamnya terutama cerpen karya Bunda Helvy. Kita memang sama sekali bukan apresiator yang baik apalagi kritikus hehe. Tapi kita sebagai anak SMP saja tahu kalau cerpennya beliau itu tidak hanya keren secara bahasa akan tetapi juga cerita. Kalau sekarang kita perhatikan ya, beberapa penulis (fiksi, terutama yang genre-nya Islami) banyak yang terjebak pakem berlebih-lebihan dalam mempuitisasi tulisan. Padahal ceritanya biasa aja (imho looohh) terus gak tau kenapa, dia best seller zzzz. Hmm saya berani bilang, karyanya Bunda Helvy itu tidak demikian. Semuanya serba pas dan tidak berlebihan. Termasuk, kandungan dakwah di dalamnya.

4.2.17

That Just-In-Case Stuff and Where You Put Them

This is very embarrassing but after all these years of denial, I finally need to agree with them easy-going-don't-care-for-style girls and have to reconsider my choice of: BAG. Yes, bag is an essential part of women (hehe) like we cannot going around without carrying our bags. For a woman who works like me, choosing a bag is one factor because I walk about 300 meters from my place to the office everyday carrying my bag (full of my 'just-in-case' stuff). I don't really carry a lot of stuff, tho. But still, the right bag is necessary.

And why do I suddenly think this way? I don't really have problems with my daily bag before today. Yeah. Another clumsiness kills so I have this aching right shoulder for two weeks (tears).
My daily bag.
Yaaa jadi ceritanya dua minggu lalu saya jatuh terperosok ke dalam lubang yang dalam (jirr bahasa apa ini). Saya lupa yaa waktu itu memang 'gak seberapa sakit sih tapi malunya lebih nyakitin karena diliatin orang-orang haha. Pas nyampe kosan, saya baru sadar kaki saya lebam binti lecet dengan tangan kanan yang tiba-tiba pegel kayak mau copot.

Sehingga saya 'gak bisa pake tas kerja saya yang biasanya: that brown Mayonette handbag I adore so much (huhu). Ini juga menyadarkan sih bahwa sebelum saya jatuh itu saya memang kadang sakit bahu yang kemungkinan besar disebabkan oleh pilihan tas yang kurang ergonomis.

Barang bawaan saya cukup banyak sih. Orang bilang, isi tas kita itu isinya barang-barang just-in-case semua. Siapa tau butuh gitu. Tapi gak benar-benar selalu diperlukan. Kayak saya, selain dompet dan hand phone, isi tas saya itu ya benda-benda untuk aktivitas "menunggu". Hand phone, headset, pulpen, sketch book, note book, just book, hehe. Makanya karena isi tas saya gak bisa diringkas lagi, akhirnya saya memutuskan pake tas punggung. :(

Buat saya ini tuh lumayan big deal sih.

14.1.17

Formula Anti Gila

I am actually in the middle of working - cie, kerja teross. Gak sih, soalnya kemarin sempat bolos satu setengah hari gara-gara HxNx - oke, kita biasa menyebutnya "flu" - sehingga saya merasa sudah terlalu lama libur tanpa cuti dan harus mengganti gap kosong yang kemarin saya tinggalin (still, "cie, kerja teross").

Baiklah. Saya ada deadline. Dia menunggu di pojok sana. Sendiri. Menatap sambil mengancam akan mematikan lampu. Mengingatkan bahwa listrik adalah sesuatu yang memberi nyawa pada apa yang sedang saya kerjakan. Dan saya malah menggambar, menggunakan listrik untuk sesuatu yang lain seperti main-main dengan Photoshop dan bahkan sekarang sedang menulis entry blog di sini. Oke. Dia menatap saya tambah tajam sekarang.

Haruskah saya lari sekarang? Soalnya untuk memenuhi si deadline ini, saya butuh energi. Energi saya lagi kurang banget. Flu dan beberapa hal gak penting sedang menguras energi saya. OMG makin dibiarkan, makin mau gila.

Inspired by Nala Cat. Colored pencil and water color on plain paper. With ink and a help of Photoshop CC.
Analoginya begitu sih. Dan ini gak terjadi sekali aja. Sudah berkali-kali. Agaknya tiap tahun begini banget deh. Di saat inspirasi sangat dibutuhkan dan harus dieksekusi, eh yang terjadi macam-macam: sakit flu, malas, futur, bengong, gak fokus, malas. Hehe. Termasuk, ada pengaruh dari perasaan kehilangan akibat ditinggalkan beberapa orang (atau hal) sekaligus. Yah, saya agak sensitif terhadap 'ditinggalkan'. Dalam beberapa kasus ini sangat merugikan sih, misalnya kita jadi melakukan banyak tugas sementara menunggu pengganti manusia-manusia (atau hal-hal) yang pergi.
It seems that the whole world is against me now. - January 6, 2017.
Oleh karena itu saya menjadi manic! Mmm gak tau deh apa istilah ini tepat. Pokoknya ada saat di mana kamu lagi banyak ide yang pengen diungkapkan tapi yang terjadi adalah, kamu mandeg. Kemudian cemas 'gak jelas, waswas dan sebagainya. Juga ada rasa g'ak percaya sama orang (atau hal), takut 'gak sejalan dan sebagainya. Mendengarkan musik pun jadi nyakitin kuping gitu. Entah karena sulit ngaturin prioritas ataukah kamu memang bukan eksekutor yang baik. Dan saat itu terjadi, kadar antusiasme yang kamu dapat dari sekitarmu ternyata kurang banyak! Gak heran si manic ini semakin menjadi-jadi.

23.11.16

The Ghostwriter Part 2; Publish or Perish

If there's a part 2, then there must be a part 1 heheh. Well that part 1 was happened years ago, when I was still in the "will-work-for-food" phase (in the most desperate state) and doesn't need any attention to my actual entity. For example, I didn't sign my creation (or writing); means, I let people claimed it as theirs; means, no one knows it was me creating things. And then there were "but(s)" behind all these means. Here are the but(s): I was paid, They were nice, The situation didn't allowed me to do that (For example: I've just graduated, how would I write a doctoral thesis on my own, right?) and I was paid lol. So there was no problem about that, right? We made a deal! And because I learnt a lot by doing that so I didn't hate it. Being a ghostwriter was fun. Like being a secret agent.

WAS fun.

Until unfortunately, I found it was no longer exciting since I am in the real world now. Yes. I told people that one of my motto is "publish or perish" but at times, I'm too coward to take credits for everything. Have I told you that I once hid myself in the crowd when I was announced as a winner of something in high school and asked to get on to the stage, just because I didn't want to be seen - I was too shy (and coward). Okay that was the stage fright things and happen to be lost in sight nowadays (sometimes it happened again, displease everyone). What I'm talking about now is something deeper.
Originally seen on Marc Jacobs ad. Illustration on plain paper using inks and water color. Refined by Photoshop CC.
This is the situation where you create (or control, or think, or whatever) something but no one knows about it coming from you. And they do it on purpose while you don't. There are reasons behind it but it doesn't matter. Your name isn't worth to mention and they prefer you to stay anonymous. So you hid yourself again. Like a ghostwriter (or only "ghost"). Only this time, you don't mean it.


To explain the ambiguity-ish feeling resulted by this situation, I'll split myself into two persons.

20.8.16

A Pep Talk for A (Potentially) Toxic Co-Worker

Can we really help the toxic people by giving them some (extra) effing empathy??

Fact check: being in a career-world for almost 5 years took me to realize that since I signed that contract, I have decided to drown myself into that cruel society, where friend(s) are rare things to find (if not nonexistent) and enemy(es) are growing in number (or ability!) as we climb to a higher place. No no, not that I have climbed higher place (yet) lol or got promoted whatsoever so I have enemies, no. I was tempted to say that, because I've looked around, analyzing the circumstances, terrified by that "war" that constantly takes place, and then I came into that conclusion. Scary... And if you think you have no enemy, uhm honey, you may think you have none, but probably some of your fellas slash co-workers have marked you as theirs.
Taken from The Intern, as I captured on my sketch book.
During my observation, I found this phrase, "the toxic co-worker" who put poison in your days and spread the hate every time they walk or speak. Do I have one? Or am I likely that one? IDK. But they are do exist in many forms. The one that annoys me too much is this ultra-cocky-playing-victim-empathy-beggar (what a phrase! lol). Yeah, we have (at least) that one co-worker who constantly upset because he/ she thinks that people are got them in a very wrong place, gaining followers by using his/ her sad sad rants while silently owning an ultra-huge self esteem, that he/ she thinks he/ she deserves better things (like wages? position?) than others.

What?? Ew! Right?

I've been struggling with one of those kinds of people and somehow it drives me nut, like, I hope I could change them or giving them my empathy (more like pep talks, actually) to make them less annoying, but man I was unsuccessful lol. Let's hope that we're not part of those cr*p. I mean, we have our insecurities and stuff but always keep in mind that not everything is for shared and that toxic is bad for your mental health! We started working usually at our 20s, I think it's mature enough to enter this world but those people do still exist.

About my version of that toxic co-worker(s), I have an analysis for each phrase mentioned above:

13.7.16

Kenapa Gue Gak Jadi Artis?

YAEYALAH GUE SIAPA wkwk.

Disclaimer: Tulisan ini bersifat just-for-fun dan kalau tidak fun mohon dimaafkan. Intinya gak maksud mendiskreditkan profesi tertentu.

Maafkan judul yang bikin agak eneg ini but today I was just browsing through one to too many articles about "the somebody" plus those "it" people and I was like, OMG it looks so hard being a celebrity no? Hehe. Salah satu guilty pleasure saya adalah nonton infotainment. Kayak asik aja gitu bisa tau kehidupan para seleb dan berasa HITS banget kalau tau kabar terkini - sayangnya kabar yang dipilih adalah kabar berkilauan dunia entertainment T_T. Hmm namun sejak bulan Mei lalu saya memutuskan mengeluarkan TV saya dari kamar kost (replaced by another electronic stuff hehe) sehingga alhamdulillah saya udah lamaaa banget gak liat infotainment.
Joey Alexander as the muse.
Tapi akhirnya saya kepo juga. Baru liat-liat IG gosip (astagfirulloh ada pula IG tematik gini) dan saya kaget aja gitu. Bukan postingannya, saya suka seneng aja liat komentar-komentarnya. Lucu-lucu sih bikin ngikik wkwk. Ada beberapa hal yang ganggu banget menurut saya dari kehidupan gemerlapan tersebut (which is why aku gak pengen jadi artis lol):

Yang ada di TV ≠ Yang ada di Dunia Nyata
"Aslinya dia gak ramah kok, gue pernah minta foto bareng eh ditolak pake muka cemberut gitu sambil ngomong 'maaf mbak saya lagi off'. Fixed ilfil, gak ngefans lagi gua".