Kamilia adalah anak SMA biasa. Baru lulus dan wisuda kemarin. Foto-fotonya yang sedang tersenyum bahagia di hari kelulusannya itu ramai di lini masa berbagai sosial media dan harian daring. Selempang bertuliskan “siswa berprestasi” dikenakannya dengan bangga. Menambah keren penampilannya. Meski begitu, sebenarnya Kamilia masih berduka. Duka yang dalam sekali. Beberapa pekan lalu, Aril, saudara kandung kesayangannya, meninggal dipeluk derasnya sungai saat mereka tengah liburan sekeluarga.
Aku ikut bahagia melihat Kamilia lulus SMA. Agak menorehkan haru dan nostalgia. Tentu bukan karena ia adalah junior SMA-ku. Hanya saja, aku membayangkan sebuah duka. Sebuah empati untuknya yang dilanda luka.
Enam belas tahun yang lalu.
Saat itu pesta kelulusan SMA. Ibu hadir dan berbaik hati membawakan tas besar yang berisi baju ganti untukku. Aku tidak langsung mengenakan kebaya dari rumah karena tentu akan menarik perhatian. Ditambah riasan wajahku yang menor dengan lipstik yang disapukan terlalu banyak dari luas bibirku sebenarnya - aku merasa seperti boneka Bratz waktu itu (atau Joker? Ha-ha). Untung ada ibu.
Awalnya, aku menikmati pesta kelulusan itu sambil ikut bertepuk tangan untuk teman-teman sekelasku yang berprestasi. Ada yang dipanggil ke panggung karena mendapat nilai UN tertinggi. Ada yang diumumkan namanya karena telah diterima sebagai mahasiswa di universitas negeri ternama. Ada juga yang mendapat beasiswa kedokteran dari perusahaan swasta di tempat tinggalnya. Aku tidak mendapat apa-apa. Tidak dipanggil sebagai apa-apa. Hanya satu orang biasa dibandingkan ratusan murid yang lulus.

