6.2.16

Berjilbab Itu Mahal

Membicarakan proses berhijab selalu menyenangkan bagi saya. Entahlah. Ada yang bilang ini usaha menyombongkan diri, riya' dan istilah lain sejenis (bukankah masalah terbesar orang yang menyampaikan kebaikan itu begitu? Dianggap sombong, riya', fanatik, militan). Tapi ya udah.

Back to topic, proses berhijab sudah pernah saya bahas sedikit di postingan yang ini. Hmm gak tau deh. Tiba-tiba aja saya jadi pengen bahas lagi. Mungkin karena saya abis nonton KMGP? Saya gemes ketika ada orang sudah berjilbab, terus mencela orang yang belum dengan kata-kata "ih apa susahnya sih jilbaban, tinggal pake doang". Itu salah. Karena berjilbab itu susah.

At least waktu itu.

1999

Di suatu tabligh akbar pas syukuran hatam anak-anak ngaji pas SD, ustadz-nya ngasih ceramah kayak gini:
"Menutup aurat itu perintah Allah dalam Al Qur'an. Gak laki gak perempuan semuanya harus menutup aurat kecuali di depan mahrom-nya. Aurat perempuan yang banyak. Seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Dan bukan cuma sholat atau ngaji aja perempuan harus menutup aurat"
Dalam hati saya:
"Hah? Berarti harus mukena-an gitu tiap ke luar rumah atau ketemu orang lain? Mukena kan buat sholat doang. Aneh."

27.1.16

Menua

Apakah mungkin Kenangan hanya fasilitas yang diciptakan Waktu untuk menghukum manusia? - Sabda Armandio, Kamu Cerita Yang Tidak Perlu Dipercaya (2015).
Kadang-kadang saya mikir, gimana rasanya menjadi tua? Dimana kamu tidak punya banyak kemampuan yang tersisa yang biasanya kamu ahli. Dimana kamu sudah gak mampu ke mana-mana, sakit, lemah, dan ruang gerak kamu menjadi terbatas. Kamu yang biasanya lincah, pengembara, aktif, tiba-tiba ruang gerakmu dibatasi menjadi di sekeliling rumah saja.

Menjalani rutinitas terbatas setiap harinya, maha membosankan namun memang tidak ada hal baru yang bisa kamu lakukan - bahkan diingat secara jangka panjang. Oleh karenanya bertahun-tahun kamu menjadi tidak punya pengalaman baru, dan satu-satunya obrolan yang bisa kamu bagi hanyalah kenangan yang kamu masih ingat jelas. Kenangan yang tersimpan lama, jauh sebelum kamu menua, jauh sebelum kamu berhenti lincah, mengembara, aktif, dan jauh sebelum ruang gerak kamu dibatasi. Yup. Pada akhirnya yang tersisa hanya kenangan.

Memory, Agent Starling, is what I have instead of a view - Hannibal Lecter, in The Silence of The Lambs (1991).
Ini dimulai saat saya mengamati nenek saya di rumah. Usianya sudah di atas delapan puluh. Penyakit beliau sudah bermacam-macam sekali. Untuk berjalan pun beliau sudah susah. Sejak belasan tahun lalu beliau sudah tidak pernah ke mana-mana lagi. Ruang gerak beliau jadi terbatas sekali. Rumah. Ruangan ke ruangan. Halaman depan. Sudah. Begitu pun orang. Hanya bertemu anak dan cucu setiap hari. Tetangga sesekali. Tukang gorengan yang mampir beberapa hari sekali. Dipanggil cuma kalau pingin jajan.

25.1.16

Hijab Hunger

Di zaman dimana gaung hijabers sudah bukan fenomena asing ini, penyakit "hijab hunger" alias "kelaparan akan hijab" sudah bagaikan penyakit yang awam juga. Biasa banget. Liat trend ini itu tertarik, liat artis pake gaya ini itu tergiur, bahkan liat "saingan" kece pake model ini itu pun kelabakan. Punya jilbab udah lusinan bahkan kodian masih aja berasa kagak cukup. Soalnya yang namanya trend itu gak abis-abis! Kemaren kayaknya baru aja muncul pashmina monokrom yang HITS banget, eh tiba-tiba besoknya muncul khimar renda-renda yang unyu-sayang-buat-dilewatkan. Gue harus keren! Gitu kali di pikirannya. Gak ikut trend gak keren! Gitu aja terus sampe tua.

Gaya gueh. Yah sebenernya masih jarang pake rok.

Emang. Gak berhenti-berhenti.

Ini adalah bentuk rasa tergelitik saya setelah membaca sebuah artikel (di sini). Di situ dibahas secara nyinyir bahwa kita para hijab hunger adalah teri-teri target pasar para kakap yang jualan via IG. Emang gak selalu dari IG sih ya. Tapi kiblat tren saat ini ya paling gampang memang dari IG. Biasanya semua diawali dari rasa penasaran saat liat selebgram keceh atau artis atau pendakwah yang pake hijab super keceh. Kayak, ih oke kayaknya kalau gue pake gituan. Beli dimana sih? Akhirnya stalking-stalking sampe dapet toko yang jualan itu hijab.

22.1.16

Maag(er)

Katanya, LIMA dari SEPULUH pekerja di Indonesia terkena penyakit MAAG. Katanya sih ini riset dari WHO (circa 2011). Ternyata sakit maag bukan cuma penyakit yang rentan diderita anak kosan berstatus mahasiswa doang. Lha saya anak kosan berstatus karyawati bisa kena juga hehe karena banyak faktor yang bisa menyebabkan penyakit maag seperti: pola makan yang gak teratur (checked), kebanyakan minum teh, soda atau kopi (checked, teh doang ding), stress (checked, oops!), makan yang pedas dan asam (checked!), alkohol (BIG NO), kurang tidur (checked). Malahan belakangan lagi sering banget kambuh (T_T).

Gambar lama. *nulis tiap hari bikin stok gambar menipis T_T
Saya udah lama banget jadi pasien maag yang kambuhan banget walaupun alhamdulillah gak sampe kronis sih. Saya pemales parah. Untuk makan aja males. Kadang saya mikir mungkin saya cocoknya hidup di era futuristik dimana makanan semuanya berbentuk pasta atau semacam infusan (okeh, lebay dan na'udzubillah). Intinya penyebab saya maag adalah maager (eaa pelesetan).