1.7.12

That Label

The hardest part of being the youngest person in town is the label "childish" they put on your forehead. No matter how much you've tried to fit in, no matter how much you've struggled to blend, they still have their doubt on you. 

Man.. believe me, you're exactly growing up. Even if they couldn't see it. Even if they doubt it. Maybe it's just, you grow too slow. And who said that if you grow slower than anyone else is a sin? That's not your fault. No one is interested to be a "Peter Pan" forever (maybe I would like to, but not in this real world. ha ha).

So keep growing. Keep trying. No fear. No doubt. You don't have to prove anything. You just have to be you. Even if they keep giving you candies just to stop your mouth from blabbing and crying (even if in fact you don't do any).


Too bad they considered you as a child so they give you the candy to make you stop blabbing.
It's not the candies you should blame on. It's about your reaction that makes you become a grown up or child (thanks to a friend who gave me this quote, although I changed it a bit).


*the word "you" on the whole post above refers to "I". 

2.6.12

Catatan OJT I: Mei

Kali ini ada cerita mengenai pengalaman OJT pertamaku di tempat kerja. Jujur ini adalah pertama kalinya aku bekerja, maksudku, the actual job. Not the ghost-writer stuff or else. Makanya rasanya udah kayak excited, senang, tapi juga waswas. Maklum, aku punya banyak isu sosial. Seriously. Aku sering susah untuk ngomong di depan umum, atau bahkan ngomong buat sekedar ngobrol. Tapi itulah justru yang bikin aku ingin bertahan. Aku seperti ditantang untuk meminimalisir efek buruk isu tersebut. Yah..gak ngoyo juga sih. Karena prinsipku, kita emang harus nyoba, tapi please banget jangan too much alias don't try too hard! Nanti bakalan capek. Asikin aja (Ipul's quotes).

Oke, di sini kita main-main soal asumsi versus fakta tentang OJT I (my findings, of course).
OJT I kira-kira mengenai produk di dalam tangki bola ini.

Nuansa Pagi

Nah...di tempat OJT pertama itu, ada kebiasaan unik setiap paginya. Jadi di situ ada "nuansa pagi". Pas denger pertama kali sih bingung juga ya, soalnya yang aku tau, nuansa pagi itu judul acara berita di salah satu TV swasta.

6.5.12

Hitched and Armed

It's Illustration Friday post again! For this hitched-session I decided to draw this dark-bride picture. Fun fact about me, I always love the Corpse Bride movie and image. Couple days ago I also saw the Rec movie poster (haven't seen the movie, though) and so inspired. Well so it came like this:

Armed-bride: pen and ink, plus photoshop-ed.

For you who haven't seen the trailer, go here. Watch out! It's full of z-o-m-b-i-e-s!!

4.5.12

OJT: Let Us Begin..

*Bahasa again, cz this is gonna be emotional..

Packing adalah sesuatu yang kalau bisa, aku ingin sekali hindari. Kenapa? Karena packing identik dengan perpindahan, kepergian, keberangkatan, perpisahan... Seperti yang terjadi pada kami, para siswa BPS M&T Batch II 2011 hari Minggu lalu. Rasanya baru kemarin, kami dipertemukan di RSPP Jakarta setelah sebelumnya digabung dengan BPS divisi lain di PLC Simprug, lalu diberangkatkan ke Cepu untuk mengikuti pelatihan selama 2 bulan. Setelah itu tiba-tiba saja kemarin segalanya menjadi dipercepat.

Setelah singgah di Cirebon seminggu, kami diantar kembali ke PLC Simprug dan diberangkatkan lagi ke tempat OJT masing-masing. Sebagian ada yang dikirim ke Medan, Palembang, Balikpapan, bahkan Papua.

Jadi pada akhirnya ternyata kami harus berpisah di situ. Oleh sesuatu bernama "OJT".

Kronologis:

RSPP mungkin adalah tempat pertama dimana anak-anak M&T dipersatukan. Soalnya pas kelas bahasa Inggris, kami dipisahkan ke dalam 3 kelas yang berbeda sesuai nomor urut absen kami. Aku waktu itu masuk di kelas C karena nomor absenku 66 (buncit ya). Banyak yang aku dapat dari kelas ini. Bukan saja aku yang lebih nyaman dengan bahasa Inggris tulisan, menjadi terbiasa berbicara (walaupun tidak fasih) dengan bahasa ini, tetapi juga kadar ke-anti-sosial-anku berkurang karena aku merasa ada orang-orang yang bisa kuajak bicara di sana. Apalagi guru bahasa Inggrisnya asik: selalu gak hilang ide buat nyiptain game-game yang seru dan bikin kami harus berinteraksi satu sama lainnya. Kelas lain bilang kami kelas autis. Bukan aja karena provider untuk kelas kami yang beda sendiri, tapi juga memang kami akui kalau orang-orang di kelas ini cukup independen. Itulah kenapa aku suka di situ. Sampai rasanya gak mau pisah kelas.